Inovasi DPCS Pupuk Kaltim Raih Predikat Tertinggi ICQCC 2019 di Jepang

KITAMUDAMEDIA, Bontang – Pupuk Kaltim melalui inovasi Distribution Planning and Control System (DPCS) raih predikat tertinggi kategori Gold, pada ajang International Convention on Quality Control Circle (ICQCC), yang pada tahun ini Jepang ditunjuk sebagai tuan rumah melalui Union of Japanese Scientists and Engineers (JUSE) di Tokyo, Jepang, pada 25 September 2019.

Penghargaan diberikan oleh Juri Matsuda Yoshihisa dari Jepang dan A.K.M. Shamsul Huda dari Bangladesh, kepada TIM DPCS Pupuk Kaltim, terdiri dari Ari Novan Setiono, Revita Pratiwi, Ekajati Winarmo, Azwar Janur dan Supriono.

Inovasi DPCS dengan judul “Creating Distribution Planning and Control System of Geo Spatial Data-Based to Improve The Control and Distribution of Subsidized Urea Fertilizer at PT Pupuk Kalimantan Timur” dinilai berhasil menerapkan Quality Control Circle (QCC) dalam meningkatkan daya saing usaha, melalui monitoring stok dan jaminan ketersediaan pupuk subsidi yang optimal dan aman sepanjang tahun, agar produksi dilute pupuk subsidi dapat dimaksimalkan untuk  penjualan pupuk non-subsidi di pasar domestik dan ekspor, serta konversi urea menjadi amoniak.

Ketua Tim DPCS Ari Novan Setiono, mengatakan Pupuk Kaltim merupakan perusahaan pertama dan satu satunya di Indonesia bahkan dunia, yang memiliki inovasi monitoring dan pengawasan distibusi pupuk subsidi dari lini produksi hingga pengecer.

Basis data utama DPCS didapat dari System Application and Products (SAP), yang digabung dengan basis data lain seperti sistem pelaporan stok distributor dan pengecer, serta alogitma Estimation to Arrival – Estimation to Departure (ETA/ETD) until in transit darat dan laut menggunakan Global Positioning System (GPS) yang dikelola dalam middle database untuk kebutuhan monitoring.

DPCS dibuat dengan mengelompokkan data yang sebelumnya per gudang (plant) menjadi data per Kabupaten atau Kota. Satu grup bisa terdiri dari beberapa gudang atau satu gudang bisa melayani beberapa kabupaten atau kota. Data tersebut dikumpulkan pada warehouse untuk selanjutnya ditampilkan dalam bentuk web berbasis data spasial. “Inovasi ini sangat kompleks karena meliputi wilayah distribusi pupuk subsidi yang sangat luas, dengan karakter setiap wilayah berbeda dan unik, melilbatkan sekitar 300 distributor dan 10 ribu pengecer,” ujar Ari Novan.

Kompleksitas DPCS dipermudah melalui Distribution Requirement Planning (DRP), yakni model skenario dan struktur distribusi Pupuk Kaltim yang terdiri dari 1 pusat produksi, 18 provinsi (Lini-2), 228 Kabupaten atau Kota dan 300 gudang yang terbagi pada beberapa grup. Setiap grup minimal terdiri dari satu Kabupaten atau Kota dan satu gudang, serta mempunyai jarak tempuh (leadtime) yang dihitung berdasarkan waktu perjalanan distribusi dari lini 1 hingga diterima di tempat.

Perhitungan DRP melihat jumlah pupuk yang dapat diangkut dalam 1 kali pengiriman (lot size), sesuai safety stock pada lini-3 yang sudah ditentukan melalui ketetapan Pemerintah.

“Setiap nomor grup dapat dilihat nama, anggota grup, gudang dalam grup, serta moda transportasinya, juga lead-time dan lot size-nya. Fitur DRP juga dilengkapi supplier shutdown, sebagai karakter unik setiap daerah di Indonesia,” tambah Ari Novan.

Data terintegrasi pada DPCS dapat digunakan untuk proses pengambilan keputusan secara cepat dan tepat, terkait pemenuhan stok pupuk subsidi di seluruh area tanggungjawab Pupuk Kaltim, sekaligus memberi kesempatan perusahaan melakukan optimalisasi penjualan pupuk non-subsidi secara domestik maupun ekspor, sehingga mampu mendorong peningkatan keuntungan.

Tim DPCS Pupuk Kaltim

DPCS juga telah mendapat hak cipta dan diimplementasikan di seluruh anak perusahaan Pupuk Indonesia Grup, karena terbukti mampu meningkatkan optimalisasi stok dan menjadi faktor berpengaruh dalam izin ekspor.

“Roll Out DPCS akan dilakukan tahun ini dengan fitur multicompany untuk seluruh anak perusahaan Pupuk Indonesia Grup. Bahkan Badan Urusan Logistik (Bulog) juga berencana mengadopsi DPCS sebagai tools untuk kontrol stok komoditi, karena DPCS memang didesain generik untuk semua komoditas,” terang Ari Novan.

GM SDM Pupuk Kaltim Jojok Wido Harjoso, yang hadir pada kesempatan itu mengapresiasi Tim DPCS yang berhasil membawa nama Pupuk Kaltim dan Indonesia, melalui pemanfaatan teknologi dalam mendukung optimalisasi kinerja dan pencapaian target Perusahaan.

Dirinya berharap prestasi ini dapat memotivasi seluruh karyawan dan insan Perusahaan, sehingga Pupuk Kaltim ke depan lebih berkembang serta memiliki daya saing tinggi di kancah internasional.


“Sebagai industry leader di Indonesia, Pupuk Kaltim senantiasa mendorong inovasi di berbagai bidang dalam mendukung kinerja Perusahaan. Hal ini sudah menjadi budaya kerja Perusahaan yang konsisten dilaksanakan dari tahun ke tahun,” tutur Jojok Wido Harjoso, didampingi Manager Inovasi dan Pengembangan Manajemen Pupuk Kaltim Alvina E. Dharmawangsa. (*/vo/nav/KA)

Leave a Reply

Hi Kawula Muda
Powered by