Tips Kesehatan: Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain!

“Kadang, kita takut ketinggalan orang lain, padahal destinasi kita semua beda.”

Inilah yang dikatakan Widya Arifianti, penulis lepas sekaligus lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Dilansir dari Kumparan.com, dalam cuitannya yang kini viral, Widya menggambarkan betapa banyaknya orang yang kerap membandingkan diri dengan orang lain.

Hmmm, Kawula Muda ini menarik untuk diperhatikan. Bukankah masih banyak yang melakukan hal itu? kok bisa?

Leon Festinger, psikolog sosial asal Amerika, menjelaskan fenomena ini lewat teori perbandingan sosial (social comparison). Mengutip penjelasan dalam situs harleytheraphy.co.uk, Festinger mengatakan, manusia memiliki keinginan untuk mengevaluasi dan mengetahui kenyataan mengenai dirinya sendiri. Selain itu, kita juga memiliki keinginan untuk menemukan cara mendefinisikan diri sendiri.

Sementara, kita tidak bisa mencapai hal ini, bila kita tidak memiliki perbandingan situasi. Sehingga, bukan hal yang mengherankan bila kita berakhir membandingkan diri dengan orang lain, baik yang lebih beruntung maupun tidak.

Padahal, bila tidak memiliki konsep diri yang cukup kuat, ini hanya akan membuat kita merasa terombang-ambing. Terlalu banyak membandingkan diri juga dapat membuat kita merasa tertekan. Sehingga, demi kesehatan mental yang lebih baik, ada baiknya Kawula Muda menimbang ulang kebiasaan ini.

Coba perhatikan tiga alasan dalam tips kesehatan ini :

1. Hasil yang didapatkan tidak akan realistis

Apa yang kita dapatkan dari membandingkan diri dengan orang lain tidaklah realistis. Sebab, sebuah perbandingan seharusnya dilakukan dengan melibatkan dua hal yang memang seimbang. Namun, pengalaman hidup orang tidak akan pernah sama maupun setara. Semirip apapun latar belakangnya, apapun yang dirasakan dan terjadi dalam kehidupan setiap orang pasti berbeda.

Selain itu, bisa jadi, kita hanya membandingkan diri dengan apa yang terlihat pada permukaan kehidupan orang lain. Apalagi, bila kita hanya mengacu pada apa yang terpampang dalam akun media sosial seseorang.Sehingga, apa yang kita dapatkan dari perbandingan hanyalah hasil semu yang tidak merepresentasikan kenyataan.

2. Membandingkan diri tidak selalu menjadikan kita lebih baik

Saat membandingkan diri, ada kemungkinan seseorang akan melihat ‘ke bawah’ atau ‘ke atas’. Bila dilakukan sesekali, hal ini mungkin bisa membantu kita merasa lebih baik atau merasa termotivasi untuk menjadi lebih baik. Namun, bila berlebihan, perbandingan ini tetap akan memberikan efek negatif pada kehidupan kita.

Ketika membandingkan diri dengan orang yang jauh lebih sukses, kita bisa merasa tertekan. Terutama, bila kita tidak memiliki kemampuan, tekad, maupun sumber daya yang cukup untuk bisa mengejar posisi mereka. Alih-alih merasa termotivasi, kita justru akan merasa rendah diri. Ini bisa menghambat dalam mencapai tujuan hidup, juga mengurangi semangat untuk menjadi lebih baik lagi.

Selain itu, membandingkan diri dengan orang sekitar yang memiliki profil mirip dengan kita juga bisa memiliki efek negatif. Terutama, bila kita melakukannya hanya untuk mendapatkan justifikasi dari tindakan yang seharusnya dilakukan. Pada akhirnya, tak satupun perbandingan yang memiliki efek benar-benar positif.

3. Membandingkan diri bisa merusak hubungan kita dengan orang lain

Efek negatif lain yang bisa terjadi adalah rusaknya hubungan dengan orang yang bersangkutan. Terutama, bila orang ini sebenarnya merupakan teman atau orang terdekat kita.

Disadari atau tidak, saat membandingkan diri dengan orang lain, kita mungkin akan merasa iri dengan mereka. Padahal, akan sulit untuk berteman dan memberikan dukungan kepada orang yang membuat kita iri dan cemburu. Sehingga, lebih baik untuk tidak membandingkan diri dengan pencapaian orang lain, terutama teman dekat.

So, percaya pada kemampuan diri ya Kawula Muda. Biar tetap sehat mental, berhentilah membandingkan diri dengan orang lain! (Yulianti Basri)

Leave a Reply

Hi Kawula Muda
Powered by