Kisah Survival Covid-19, Isolasi Mandiri Tanpa Bantuan Suplai Makanan hingga Berharap Surat Keterangan Sembuh

KITAMUDAMEDIA, Bontang – 30 hari,  seorang ibu rumah tangga, survival Covid  yang tak ingin disebutkan namanya harus menjalani masa karantina mandiri, usai dinyatakan terkonfirmasi positif corona oleh Tim Gugus Covid-19 Kota Bontang. Tak pernah terbayangkan olehnya akan terkena virus yang lagi viral tersebut. Betapa tidak, sebagai ibu rumah tangga tidak ada kesibukan yang mengharuskannya keluar Kota atau berpergian ke daerah – daerah zona merah, selain pasar. Karena ia memang nyambi berjualan makanan melalui media sosial.

Wanita berusia 38 tahun ini, mengetahui kondisinya setelah melakukan pemeriksaan kesehatan sebagai syarat seleksi tenaga pencacahan penduduk dengan hasil rapid reaktif. Sangat terkejut, itu yang dirasakannya, namun berharap hanya karena fisik yang kurang fit. Ternyata setelah dilakukan swab, dirinya terkonfirmasi Covid-19. Masuk dalam klaster keluarga.

“Saya itu nggak tahu, kena dimana? Kapan? Soalnya setiap hari paling ke pasar, disini – sini (Bontang) aja,” tegasnya.

Beruntung, kondisinya baik dan hanya diminta melakukan karantina mandiri di rumah oleh Gugus Tugas Covid-19 Bontang. Dari 4 anggota keluarga, ia dan anak bungsunya dinyatakan terpapar corona, sementara anak sulung dan suaminya, negatif.

Pengawasan dan perawatan tidak didapat olehnya, hanya kontrol via telepon maupun aplikasi whatsapp yang dilakukan tenaga kesehatan dari Puskesmas. Ia juga diberi beberapa jenis obat untuk menjaga kondisi tubuh tetap stabil, diminum jika ada keluhan serupa gejala Covid-19 pada umumnya. Sementara untuk multivitamin harus beli sendiri.

Kebutuhan makan sehari – hari, dibantu oleh tetangga dan teman yang masih mau peduli. Walau tetap ada tetangga yang menebar stigma. Mungkin benar, mereka masuk dalam kategori OTG (Orang Tanpa Gejala) tapi stigma dan terhentinya aktivitas berdagang menambah beban pikiran dan cukup membuat stres.

Baca Juga  10 Sektor Pajak Menumpuk Utang Rp 57,7 Miliar, Kepala Bapenda : Paling Gemuk PBB

“ Ya, Alhamdulillah masih ada tetangga dan teman – teman yang peduli, ngasih makanan. Soalnya nggak ada bantuan sama sekali dari RT ataupun Kelurahan. Sementara kami sekeluarga harus karantina, jualan tidak bisa,” kenangnya.

Hal lain yang sangat disesalkannya adalah prosedur pemeriksaan Covid-19, bagi pasien yang menjalani karantina mandiri dirumah. Wanita berkode BTG3xx ini menuturkan, akhir Agustus 2020 dia dinyatakan reaktif, kemudian diminta untuk datang sendiri ke rumah sakit melakukan pemeriksaan swab pertama, 4 hari kemudian hasil swab menunjukan positif dan langsung karantina mandiri. Pada pemeriksaan swab ke 2 dan ke 3, dirinya harus ke rumah sakit sendiri, tanpa pendampingan dan fasilitas antar jemput dari Tim Gugus Covid-19.

“Datang sendiri ke RSUD, ya bisa gabung atau interaksi sama siapa aja, habis diperiksa swab ya sudah…disuruh pulang gitu aja, mau mampir kemana juga bisa. Kalau nggak dengan kesadaran sendiri,” ungkapnya.

23 September 2020, setelah melalui 3 kali pemeriksaan swab, dia dinyatakan sembuh, namun pemberitahuan nya hanya melalui pesan singkat tanpa surat keterangan apapun. Padahal surat keterangan sehat atau sembuh sangat dibutuhkan survival Covid-19 itu, sebagai bukti agar tidak dijauhi oleh lingkungan sekitar. Terlebih profesinya sebagai pedagang makanan.

Dengan wajah sendu, wanita berjilbab itu berkisah dari saat dinyatakan sembuh dan mulai beraktivitas, jualan yang dijajakannya melalui media sosial sepi pembeli. Banyak yang belum percaya akan kesembuhannya.

“Cobalah kami ini dikasih surat keterangan sembuh, kan lega. Bisa kita posting dan umumkan ke semua orang kalau benar – benar sembuh, resmi dari Dinas Kesehatan. Jadi orang ndak takut- takut lagi. Enak juga kita jualan. Saya cuma diinfo lewat Wa, sudah saya minta surat keterangannya, eh… nanti nanti aja, sampai sekarang (8/10/2020) tidak dikasih – kasih,” sesalnya.

Baca Juga  Brand Hits akan Hadir di Bontang Citimall, Nomor Delapan Paling Ditunggu, Cek!

Ibu dua anak ini berharap, pemerintah Kota Bontang dapat lebih peduli terhadap warga yang terkena Covid-19 dan harus melakukan isolasi mandiri. Suplai makanan dan kebutuhan lainnya untuk menjaga kondisi imun tubuh agar tetap baik, merupakan hal yang sangat penting untuk diberikan, karena jika tidak diperhatikan dan tidak ada yang peduli maka tak menutup kemungkinan, penderita Covid-19 tetap harus keluar rumah. 

“Maunya ada bantuan khusus, makan dan vitamin disuplai biar tidak perlu keluar rumah. Syukur kalau ada keluarga atau tetangga yang mau peduli, kalau semua menjauh, ya bagaimana. Ini bantuan makanan dari RT saja tidak ada. Ya… jangan salahkan kalau tetap harus keluar, mau tidak mau. Sama kalau mau pergi periksa, harusnya diantar jemput, biar aman, kita tidak menularkan ke siapa – siapa. Kalau datang sendiri ya…susah dihindari berinteraksi dengan orang – orang,” pintanya.

Terpisah, Adi Permana, tim surveilans Covid-19 disela konferensi pers perkembangan kasus Covid-19 , Kamis (8/10/20) menampik hal tersebut. Dikatakannya semua pasien yang sembuh diberi surat keterangan  melalui  dokter penanggung jawab masing – masing pasien.  Setiap pasien yang menjalani isolasi mandiri di rumah dipastikan dalam pengawasan tenaga kesehatan Puskesmas di wilayahnya. Dalam kurun waktu 10 atau 15 hari, jika tidak ada keluhan maka dinyatakan sembuh. Dengan catatan pada hari terakhir, melakukan kontrol dan pemeriksaan klinis, apabila hasilnya bagus maka dikeluarkan surat keterangan sembuh.

“Pasien yang isolasi mandiri di rumah, di bawah pengawasan puskesmas setempat. Dalam kurun waktu 10 atau 15 hari, jika tidak ada keluhan, di hari terakhir pasien harus kontrol ke puskesmas dan dilakukan pemeriksaan klinis, kalau semua bagus, dinyatakan sembuh,” paparnya. (Redaksi)

Baca Juga  1.950 Dosis Moderna Datang, Nakes Bontang akan Disuntik Vaksin Ketiga

Editor : Kartika Anwar

Ikuti Fans Page Kami

Leave a Reply