Banjir Bandang di Garut, Puluhan Kapal Nelayan Hilang dan Rusak

KITAMUDAMEDIA – Banjir bandang yang melanda tiga kecamatan di wilayah Garut Selatan, Jawa Barat, juga membuat perahu para nelayan di pelabuhan ikan Pantai Santolo, Kecamatan Cikelet, hilang. Akibatnya, mereka merugi hingga ratusan juta rupiah

Kapal beserta seluruh peralatan menangkap ikan yang ada di dalamnya rusak hingga hilang. “Ada 36 kapal yang terdampak, 15 di antaranya hilang tenggelam di tengah laut saat banjir bandang dari sungai datang,” jelas Pudin Marjoko, ketua Rukun Nelayan Santolo saat ditemui di pelabuhan ikan Santolo, Rabu (14/10/2020) pagi.

Menurut Pudin, pelabuhan ikan Santolo menjadi tempat sandar sedikitnya 750 kapal ikan nelayan.

Pelabuhan ikan ini bertempat di muara Sungai Cilautereun. Saat banjir bandang datang pada Senin (14/10/2020), ada ratusan kapal nelayan yang tidak melaut sedang sandar di pelabuhan.

Kapal-kapal nelayan tersebut ditambatkan di pelabuhan. Namun karena derasnya air, ada puluhan kapal yang hanyut ke laut.

Sebanyak 15 di antaranya, menurut Pudin, tenggelam di tengah laut bersama peralatan yang ada di kapal seperti mesin, jaring hingga genset.

“Kalau dihitung kerugian bisa lebih dari 500 juta rupiah, harga satu kapal saja sudah Rp 70 juta, belum jaring, mesin dan genset,” katanya.

Pudin mengaku, kapal miliknya memang tidak menjadi korban. Sebab, saat kejadian, ia tengah melaut dan baru kembali ke pelabuhan. Para nelayan yang baru pulang melaut di pagi hari, tidak bisa masuk ke pelabuhan karena arus sungai besar. “Sebagian ada yang lepas jangkar di tengah, sebagian lagi ke pantai berlabuhnya, yang lepas jangkar di tengah baru bisa sore merapat ke pelabuhan,” katanya.

Sula (45), nelayan yang biasa merapatkan kapalnya di pelabuhan ikan Santolo saat ditemui di Pantai Santolo mengungkapkan, meski saat kejadian ia sedang melaut, namun kapalnya tetap rusak akibat banjir bandang. Sebab, saat akan berlabuh di pantai, arus air dari muara cukup kencang hingga membuat kerusakan ringan pada perahunya.

Baca Juga  Tidak Maksimal, Pemkot Bontang Minta Pengelolaan BLKI Dialihkan ke Daerah

“Paling beli tambang buat ngikat bagian kapal yang kendor, karena kemarin kena arus kencang dari muara,” katanya saat ditemui tengah memperbaiki kapalnya yang dilabuhkan di Pantai Santolo yang sebelumnya jadi tempat wisatawan bermain air.

Sula yang tinggal di Kampung Mancagahar, Desa Mancagahar, Kecamatan Pamengpeuk, ini mengaku, harus mengeluarkan uang hingga ratusan ribu rupiah untuk memperbaiki kapalnya. Namun, Sula masih merasa beruntung karena banyak rekannya harus mengeluarkan uang hingga jutaan rupiah untuk memperbaiki kapal mereka yang rusak.

“Ada yang bagian kapalnya patah, itu biayanya bisa sampai Rp 1 juta lebih buat betulinya,” katanya. (Kompas)

Editor : Redaksi


Ikuti Fans Page Kami

Leave a Reply