Diet Bebas Gluten, Diet Khusus untuk Penyakit Celiac

KITAMUDAMEDIA – Di zaman kiwari, banyak produk makanan mencantumkan label ‘gluten free‘ alias bebas gluten. Banyak orang meyakini bahwa mengonsumsi produk makanan bebas gluten bisa membawa manfaat untuk kesehatan dan tak jarang dijadikan pola diet tersendiri. Namun, diet jenis ini pada dasarnya hanya diperuntukkan bagi orang dengan gangguan autoimun celiac.

Diet bebas gluten pada dasarnya merupakan pola makan yang menghindari semua jenis makanan yang mengandung gluten. “Diet bebas gluten yang ketat mengharuskan menghindari semua makanan alami yang mengandung gluten dan makanan yang mungkin ada kontaminasi silang dengan gluten,” ujar ahli gizi Melanie Sherman, mengutip insider.

Gluten, lanjut dia, merupakan protein yang ditemukan pada biji-bijian termasuk gandum, barleyrye, spelt, dan kamut (jenis gandum-ganduman). Gluten juga terdapat pada produk fermentasi dari malt dan ragi. Umumnya, Anda akan menemukan kandungan gluten pada roti, pasta, adonan tepung, juga aneka produk yang dipanggang.

Diet bebas gluten sendiri pertama kali diperkenalkan oleh Williem-Karel Dicke, seorang dokter spesialis anak asal Belanda pada 1940-an. Diet ini ditujukan untuk pasien penyakit celiac, gangguan autoimun yang memengaruhi sistem pencernaan.

Meski di awal hanya ditujukan untuk pasien celiac, diet ini perlahan populer untuk membantu menurunkan berat badan. Padahal, tujuan dari diet bebas gluten tidak lah demikian.

“Faktanya, sebagian orang dengan celiac mungkin menemukan berat badan mereka naik karena sistem pencernaannya membaik dan mereka bisa menyerap nutrisi makanan dengan baik,” jelas Sherman.

Diet bebas gluten tidak didesain untuk semua orang. Studi pada 2017 yang diterbitkan di The BMJ menunjukkan, diet bebas gluten pada orang yang tidak mengidap celiac bisa meningkatkan risiko masalah kardiovaskular. Membatasi konsumsi gluten berarti menghilangkan beberapa makanan bermanfaat yang mengandung vitamin dan mineral.

Sejumlah bukti menunjukkan bahwa biji-bijian utuh dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, diabetes tipe-2, sindrom metabolik, hingga kanker. (CNN)

Editor : Redaksi

Leave a Reply