Hari Perempuan Sedunia, Sadar Kesehatan Reproduksi dan Hak Perempuan

KITAMUDAMEDIA – Kita baru saja merayakan Hari Perempuan Sedunia atau hari Perempuan Internasional. Hari Perempuan Sedunia diyakini berawal pada tahun 1909, menyusul peristiwa para buruh perempuan pabrik tekstil New York, Amerika Serikat, yang melakukan mogok kerja setahun sebelumnya.

Meski kebenaran kejadian itu diragukan kalangan sejarawan, tak sedikit pula orang yang percaya. Mengutip dari Internationalism in The Labour Movement 1830-1940, kaum feminis Eropa yakin, kejadian tersebut adalah ide awal tercetusnya Hari Perempuan Sedunia.

Kini, dalam rangka memperingati Hari Perempuan Sedunia 2020, Andalan, merek kesehatan reproduksi di Indonesia, menggelar acara bertajuk

“Perempuan Indonesia, Perempuan Andalan.” Acara ini adalah bentuk inspirasi dan motivasi bagi perempuan di Tanah Air untuk mulai berperan meningkatkan kesehatan reproduksi, serta mengambil keputusan di kehidupan sehari-hari.

Menurut Ade Maharani, Head of Marketing DKT Indonesia, saat ini perempuan Indonesia menghadapi banyak sekali tantangan, khususnya terkait kesehatan reproduksi dan pemberdayaan.

“Perempuan di Indonesia masih belum merdeka atas kesehatan reproduksi atau perannya dalam mengambil keputusan karena tekanan sosial,” ujar Ade di Jakarta, Minggu (8/3/2020).

“Akses pelayanan kesehatan bagi perempuan juga belum merata, sehingga banyak perempuan khususnya di daerah, sulit memperoleh layanan kesehatan yang memadai.”

Karena itu Ade menyebut, bertepatan dengan momen Hari Perempuan Sedunia, pihaknya berniat mengajak perempuan Indonesia untuk menjalankan peran mereka sebagai perempuan seutuhnya.

“Kami ajak para perempuan mengenali hak-hak kesehatan reproduksi dan bebas menentukan pilihan terhadap tubuh mereka, serta menginspirasi perempuan lainnya,” kata Ade. Dr. Dinda Derdameisya, Sp.OG menjelaskan, perempuan sering mengabaikan kesehatan dirinya, termasuk kesehatan reproduksi.

“Akhirnya, mereka mengalami gangguan kesehatan terkait organ reproduksi seperti masalah menstruasi akibat stres, dan kondisi lainnya,” tutur dr. Dinda.

Ia juga mengingatkan, para orangtua juga bisa mengajarkan pentingnya kesehatan reproduksi kepada anak perempuan sejak dini.

“Kita bisa mulai dari pendidikan seks. Pendidikan seks bukan melulu soal hubungan seksual.”

“Perbedaan antara organ pria dan wanita harus dikenali lebih dulu. Ini hal tersimpel yang bisa kita ajarkan pada anak-anak, dan pendidikan seks harus disesuaikan usia.”

“Jika anak perempuan sudah tahu teorinya, maka mereka bisa memberi perdebatan terkait mana yang benar dan tidak pada pasangan mereka,” kata dr. Dinda.

Sementara itu, Mariana Amiruddin, Komisioner Komnas Perempuan mengatakan, isu ketahanan keluarga juga sangat penting untuk diketahui setiap perempuan.

“Terutama bila kita tahu masalah perempuan di dalam keluarga dan perkawinan,” kata Mariana.

Dalam ketahanan keluarga, lanjutnya, perempuan harus menjadi hal utama. Karena perempuan adalah pihak yang mengendalikan bagaimana keluarga atau perkawinan itu sendiri.

“Mesin keluarga di tangan perempuan. Jika tidak didukung, keluarga akan berhenti di tempat dan tidak dinamis. Perempuan sebaiknya dilibatkan dalam pengambilan keputusan, dan didukung suaminya.” (Kompas)

Editor : Redaksi KMM

Leave a Reply