Polemik Pasar Tamrin Selama Hampir 4 Tahun

KITAMUDAMEDIA, Bontang – Sejak diresmikan pada tahun 2020 lalu, Pasar Taman Rawa Indah (Tamrin) terus menuai polemik.

Mulai dari atap plafon di lantai 4 yang bobrok, fasilitas kurang, penataan lapak pedagang yang dinilai tidak sesuai, harga sewa gerai yang dianggap mahal, hingga keluhan pada pedagang yang sepi pembeli.

Satu persatu permasalahan itu sudah diatasi Pemkot Bontang. Lantai 4 gedung Pasar Tamrin yang dulunya kosong kini difungsikan sebagai Mall Pelayanan Publik (MPP), dengan harapan Pasar Tamrin ramai pengunjung dan memudahkan pedagang mendapat layanan publik sembari berdagang. Pun sebaliknya, pembeli bisa berbelanja sekaligus membayar tagihan.

Pada tahun 2023 lalu, Pemkot bahan menggelontorkan dana sebesar Rp 3,7 miliar untuk membangun dua lift barang. Lagi-lagi tujuannya untuk memudahkan pedagang.

Meski begitu, permasalahan tak lantas selesai begitu saja. Para pedagang terus mengeluhkan sepinya pembeli. Aktivitas jual beli merosot, hingga pedagang merasa rugi.

Satu per satu pedagang angkat kaki dari Pasar Tamrin. Dari 1370 gerai, 50 persen ditinggal pergi. Para pedagang lebih memilih berdagang di luar gedung pasar yang dinilai lebih laris ketimbang jualan di lapak Pasar Tamrin. Hal itu juga disebabkan lantaran penempatan pedagang yang dianggap semrawut.

Akui Penataan Lapak Berantakan, Cuman di Bontang Pedagang Basah Kering Dicampur

Wali Kota Bontang Basri Rase saat monitoring harga di Pasar Tamrin

Wali Kota Bontang Basri Rase akhirnya mengakui penataan pedagang di Pasar Tamrin berantakan. Padahal pedagang sudah koar-koar mempermasalahkan penataan lapak pedagang selama hampir 4 tahun, sejak pasar itu diresmikan.

Ia menilai sepinya pembeli di Pasar Tamrin lantaran aktivitas jual beli tidak terpusat di satu lokasi. Terpecah-pecah padahal dalam satu kawasan.

“Memang penataannya berantakan. Ini di satu lantai ada penjual ikan, ada juga penjual pecah belah,” kata Basri, usai monitoring harga bahan pokok, Kamis (14/3/2024).

Baca Juga  Sejumlah Pedagang Pasar Citra Mas Lok Tuan Keluhkan Sepi Pembeli

Basri bahkan mengatakan hanya pasar di Bontang yang menyatukan pedagang basah dan kering.

“Baru pertama kali ini di Indonesia,” celetuknya.

Tahun Depan Bangun Pasar Lagi

Pemkot Bontang berencana membangun gedung pasar lagi pada tahun 2025 mendatang. Rencananya, Rumah Potong Unggas (RPU) itu khusus pedagang basah seperti unggas, ikan, daging dan seafood.

“Jadi semua penjual basah digabung di satu pasar. Baik yang sekarang ada di dalam gedung pasar (Tamrin) maupun yang di pinggir jalan. Semua akan direlokasi,” papar Basri.

Pembangunan RPU ini dinilai sebagai satu-satunya solusi yang efektif mengurai permasalahan pedagang di kawasan Rawa Indah. Selain itu meminimalisir kemacetan di daerah tersebut, yamg disebabkan aktivitas jual beli di pinggir jalan.

“Supaya tidak macet lagi jalanan di situ, jadi semua pedagang ditarik dan disatukan di pasar basah,” terangnya.

Basri pun sudah menentukan lokasi pasar baru tersebut. Di lahan bekas pasar sementara yang dulunya ditempati pedagang usai kebakaran.

“Nanti dibangun satu lantai saja, tidak seperti pasar sekarang,” ucapnya.

Ia menjamin tidak ada masalah terkait lahan. Kata Basri, Pemkot sudah membayar gugatan harga sebesar Rp 1,5 miliar untuk lahan tersebut.

Jika RPU berhasil dibangun, gedung Pasar Tamrin bakal disulap jadi pasar modern. Hal ini diyakini Basri bakal meredam keluhan pedagang kering, salah satunya pedagang pakaian.

“Nanti dibuat modern biar menarik pembeli,” pungkasnya.(*)

Reporter: Desty NA
Editor : Nur Aisyah Nawir

Ikuti Fans Page Kami

Leave a Reply