Rupiah Tembus Rp 16.240, Terbuka Dua Opsi Kebijakan Moneter

KITAMUDAMEDIA,Bontang- Merujuk data Jakarta Inter Spot Dollar (Jisdor), nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu (17/4/2024) ditutup Rp 16.240 dollar AS atau melemah 0,39 persen dibandingkan dengan penutupan sebelumnya. Pelemahan rupiah ini telah menembus titik terdalamnya selama periode 2023 sekaligus mendekati puncak depresiasi periode 2020.

Pelemahan rupiah membuka dua skenario kemungkinan kebijakan moneter yang akan ditempuh oleh bank sentral. Untuk mengembalikan rupiah di atas Rp 16.000 per dollar AS, setidaknya dibutuhkan biaya intervensi pasar sekitar 1 miliar dollar AS dari cadangan devisa.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Edi Susiato mengatakan, pelemahan rupiah saat ini masih disebabkan oleh sentimen global. Sentimen tersebut ialah rilis data fundamental AS yang menunjukkan ekonomi AS masih resilien sehingga menurunkan ekspektasi penurunan suku bunga acuan serta memanasnya konflik di Timur Tengah.

Akibatnya, indeks dollar AS selama sepekan terakhir menguat tajam terhadap nilai tukar negara lainnya, tanpa terkecuali rupiah. Sementara itu, dari sisi domestik, masih ada penyesuaian setelah libur panjang sehingga nilai tukar langsung melemah secara signifikan begitu pasar dibuka.

”BI tentu melakukan langkah-langkah, seperti memastikan berada di pasar untuk terus mengawal atau menjaga keseimbangan supply-demand valuta asing, mendorong inflow asing dengan meningkatkan daya tarik aset rupiah dan menurunkan biaya hedging, serta membangun koordinasi dengan stakeholder terkait, mencakup pemerintah, perbankan dan Pertamina,” katanya saat dihubungi. Pertamina dalam hal ini sebagai penyedia bahan bakar minyak di tanah air.

Senior Economist PT Samuel Sekuritas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi menjelaskan, ada dua opsi kebijakan yang dapat diambil oleh Bank Indonesia (BI) untuk menstabilkan nilai tukar. Pertama, BI dapat menempuh kebijakan suku bunga acuan dengan harapan akan memicu apresiasi rupiah.

”Dari hasil simulasi kami, ketika suku bunga dinaikkan, justru ada potensi depresiasi. Ketika ada kenaikan suku bunga 25 basis poin (bps), akan terjadi depresiasi sekitar 50 bps. Ini dalam efek jangka pendeknya. Untuk di jangka panjang, rupiah akan terapresiasi dalam kurun waktu lebih dari 2 minggu atau 1 bulan,” katanya saat dihubungi dari Jakarta.

Namun, sekalinya dalam tren depresiasi, nilai tukar akan cenderung terus melemah lantaran tertekan pasar dan faktor ekspektasi. Berkaca dari depresiasi yen Jepang begitu Bank of Japan (BOJ) menaikkan suku bunga acuannya dalam 17 tahun terakhir, reaksi pasar terhadap ekspektasi kenaikan suku bunga akan cenderung sulit dikendalikan sehingga perlu diantisipasi.

Baca Juga  DLH Bontang Ingatkan Warga Pilah Sampah, Ini Alasannya

Oleh sebab itu, terbuka pilihan lain yang dapat ditempuh oleh bank sentral untuk menstabilkan nilai tukar adalah lewat kebijakan intervensi pasar. Menurut Fithra, upaya tersebut ditempuh setidaknya sampai Juni 2024 atau wait and see dengan mengandalkan cadangan devisa yang dimiliki.

”Berdasarkan simulasi, dengan 500 juta dollar AS, minimal bisa membawa rupiah dari Rp 16.200 ke level Rp 16.000. Kalau mau lebih kuat lagi, 1 miliar dollar AS itu bisa mengembalikan rupiah ke level 15.900. Hal ini bisa dilakukan selama 3 bulan hingga Juni 2024,” ujar Fithra yang juga dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia.

Kenaikan suku bunga sebesar 25 bps dapat langsung mengakibatkan pasar bereaksi negatif.

Per akhir Maret 2024, posisi cadangan devisa Indonesia tercatat 140,4 miliar dollar AS atau turun dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 144,0 miliar dolar AS. Cadangan devisa tersebut setara pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,2 bulan impor ditambah dengan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Dengan kata lain, cadangan devisa masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Meski masih memadai, penggunaan cadangan devisa sebesar 1 miliar dollar AS untuk intervensi pasar selama sebulan pun perlu dilakukan secara terukur. Setidaknya, intervensi pasar dengan mengandalkan cadangan devisa dapat efektif dilakukan selama tiga bulan.

Hal ini mengingat pasar dapat kembali bereaksi negatif ketika ada pengumuman penurunan cadangan devisa hingga 130 miliar dollar AS setelah dilakukan intervensi. Dengan kata lain, kebijakan intervensi perlu dilakukan sembari mengoptimalkan penyerapan devisa hasil ekspor (DHE). Berdasarkan analisis Fithra, masih ada potensi penyerapan DHE sebesar 5-8 miliar dollar AS.

Kebijakan suku bunga

Apabila konflik di Timur Tengah semakin memanas dan terjadi eskalasi, kebijakan suku bunga tidak dapat dihindari. Hal ini mempertimbangkan penguatan dollar AS yang berimbas terhadap depresiasi rupiahdan potensi terjadinya inflasi barang impor (imported inflation).

Dari hasil simulasi yang dilakukan Fithra, kenaikan suku bunga sebesar 25 bps dapat langsung mengakibatkan pasar bereaksi negatif. Sebaliknya, kenaikan suku bunga sebesar 50 bps akan membuat reaksi pasar cenderung tertunda sekalipun memiliki efek kejut yang besar.

Baca Juga  Lolos Seleksi, Abdu Rahman jadi Direktur Perumda AUJ, Pelantikan Akhir Bulan
Karyawan menaksir perhiasan emas yang dijual pengujung di toko emas Bintang Timur di pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Rabu (17/4/2024).

Terpisah, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual berpendapat, kenaikan suku bunga menjadi salah satu opsi saat ada tekanan inflasi. Kenaikan inflasi tersebut, antara lain, terjadi akibat pelemahan rupiah dan lonjakan harga minyak global.

”BI bisa saja mengubah arah kebijakan moneter apabila inflasi terpengaruh. Namun, sejauh ini, inflasi masih relatif cukup terkendali, hanya secara musiman terpengaruh lonjakan harga bahan pangan,” ujar David ketika dihubungi.

Sampai saat ini, dampak rambatan memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah terhadap harga minyak dan indeks dollar AS masih belum bisa diperkirakan. Kendati demikian, pemerintah perlu menyesuaikan kebijakan domestik, termasuk ekspektasi terhadap perubahan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berpengaruh terhadap inflasi dan kondisi ekonomi.

BI bisa saja mengubah arah kebijakan moneter apabila inflasi terpengaruh.

Menurut David, kenaikan suku bunga acuan oleh BI cenderung akan membawa dampak turunan juga terhadap suku bunga pinjaman. Namun, hal ini masih belum dapat dipastikan mengingat suku bunga kredit konsumsi justru cenderung turun di tengah tren suku bunga tinggi selama setahun terakhir.

”Kebijakan suku bunga acuan ini lebih diarahkan supaya jangan sampai terjadi outflow yang lebih besar lagi. Kita masih membutuhkan aliran modal portofolio karena ada kecenderungan current account kita defisit. Oleh sebab itu, perlu kebijakan untuk membuat rupiah tetap menarik dan mencegah investor tidak keluar dari pasar domestik,” tuturnya.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjawab pertanyaan wartawan dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia di Jakarta, Rabu (20/3/2024).

Turun semakin dalam

Selain depresiasi rupiah terhadap dollar AS, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Rabu (17/4/2024) kembali ditutup memerah atau melemah 0,47 persen di level 7.130,84 bps setelah pada pagi hari sempat menguat. Kondisi pasar keuangan domestik terkini masih diwarnai oleh sentimen memanasnya ketegangan geopolitik Timur Tengah.

Pada pembukaan perdagangan sesi pertama hingga pukul 09.20, IHSG sempat menguat 0,95 persen pada level 7.232,74, meningkat dari posisi awal pembukaan perdagangan pada level 7.164,807. Adapun pada Selasa (18/4), IHSG anjlok 1,68 persen atau merosot 122,075 basis poin ke posisi 7.164,807 setelah pada pembukaan perdagangan berada pada level 7.286.

Baca Juga  Kronologi Tim Indonesia Dipaksa Mundur dari All England

Pada penutupan Rabu, terjadi aksi jual (net sell) investor asing sebesar Rp 470,67 miliar. Dengan demikian, nilai investasi asing telah keluar dari pasar saham domestik sebesar Rp 2,86 triliun selama sebulan terakhir.

Pergerakan indeks terpantau dari monitor di Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Selasa (16/4/2024).

Berdasarkan data setelmen sampai 4 April 2024, nonresiden mencatatkan beli neto sebesar Rp 8,25 triliun di pasar keuangan domestik. Torehan investasi portofolio tersebut terdiri dari jual neto asing Rp 34,75 triliun di pasar Surat Berharga Negara, beli neto Rp 23,95 triliun di pasar saham, dan beli neto Rp 19,05 triliun di pasar Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan, dan Komunikasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Aman Santosa mengatakan, nilai kepemilikan saham investor dari Timur Tengah tercatat sebesar Rp 65,73 triliun atau sekitar 2 persen dari total nilai kepemilikan saham investor nonresiden. Kepemilikan lembaga jasa keuangan (pengendali) oleh investor di Timur Tengah tercatat hanya di perbankan dengan asset share sebesar 0,1 persen dari total aset perbankan.

”Namun demikian, OJK akan tetap mencermati perkembangan risiko pasar Lembaga Jasa Keuangan dan mencermati pembiayaan ke sektor-sektor yang memiliki exposure tinggi terkait konflik di Timur Tengah, termasuk mencermati kondisi individual lembaga jasa keuangan,” katanya dalam keterangan resmi.

OJK juga menilai, stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga didukung oleh permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, dan profil risiko yang terkelola sehingga mampu menghadapi peningkatan tensi geopolitik global. Adapun fundamental perekonomian Indonesia masih terjaga baik, dilihat dari terjaganya pertumbuhan pada kisaran 5 persen, inflasi yang berada di rentang target Bank Indonesia, neraca perdagangan yang masih surplus, cadangan devisa yang memadai, serta masih tersedianya ruang fiskal.

Pada Februari 2024, eksposur Lembaga Jasa Keuangan secara langsung terhadap kawasan Timur Tengah relatif terbatas. Surat berharga dengan penerbit dari Timur Tengah yang dimiliki perbankan domestik hanya sebesar Rp 1,3 triliun atau 0,06 persen dari total surat berharga yang dimiliki perbankan, sedangkan asuransi dan perusahaan pembiayaan tidak memiliki surat berharga dengan penerbit dari Timur Tengah.(Kompas.id)

Editor : Redaksi

Ikuti Fans Page Kami

Leave a Reply