KITAMUDAMEDIA, Semarang – Ditengah kebijakan pemerintah pusat yang terus membuka keran impor ternak secara masif, Provinsi Jawa Tengah tetap percaya diri mempertahankan statusnya sebagai lumbung ternak nasional.
Hal ini ditegaskan oleh Plt. Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Jawa Tengah, Ir. Ign. Hariyanta Nugraha, M.Si dalam acara talkshow Teja Ungu (Ternak Jateng Urip lan Nguripi) yang digelar Kamis, 17 April 2025 di Studio Dreamlight World Media (DWM), Ungaran, Kabupaten Semarang.
“Jawa Tengah harus tetap percaya diri menjadi lumbung ternak nasional karena memiliki potensi dan keunggulan yang tidak dimiliki daerah lain,” ujar Hariyanta.
Dalam talkshow bertema
“Jateng Lumbung Ternak Nasional”, keresahan para peserta terhadap masifnya impor ternak mencuat dalam sesi diskusi.
Mereka mempertanyakan sikap Disnakkeswan Jateng terhadap kebijakan pemerintah pusat tersebut.
“Kebijakan impor memang dilematis. Saya khawatir keterbukaan impor yang terlalu luas justru membuka peluang intervensi terhadap sektor peternakan lokal,” ungkap Hariyanta.
Acara ini turut dihadiri perwakilan dari 28 kabupaten/kota dalam Forum OPD (Organisasi Perangkat Daerah), peternak, akademisi, dan sektor swasta. Talkshow dipandu oleh Ir. Daud Samsudewa, S.Pt, M.Si, Ph.D, IPM, pengajar Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP) Universitas Diponegoro.
Hariyanta menyebutkan bahwa klaim Jawa Tengah sebagai lumbung ternak nasional bukan tanpa dasar. Provinsi ini konsisten menempati tiga besar nasional dalam produksi daging, susu, dan telur. Jawa Tengah juga memiliki kekayaan sumber daya genetik hewan ternak lokal terbanyak di Indonesia, seperti Sapi PO Kebumen dan Kambing Kaligesing.
Tantangan utama sektor ini, lanjutnya, adalah menjaga kontinuitas bibit unggul sesuai SNI dan melestarikan plasma nutfah lokal. Untuk itu, program Teja Ungu dihadirkan sebagai strategi membangun sistem peternakan yang modern, mandiri, maju, dan berkelanjutan.
Reporter : Bambang Iss
Editor : Redaksi
