KITAMUDAMEDIA,Tenggarong – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat sektor seni dan budaya sebagai bagian penting dari strategi pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif daerah. Keseriusan ini tidak hanya sebatas wacana, namun mulai diarahkan melalui pendekatan kebijakan yang lebih sistematis dan terstruktur.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kukar, Sunggono menegaskan bahwa seni dan budaya lokal bukan sekadar warisan tradisi, tetapi juga memiliki nilai strategis sebagai pengungkit pertumbuhan ekonomi dan penguatan identitas daerah. Dalam pandangannya, seni dan budaya dapat menjadi kekuatan sosial sekaligus potensi wisata yang dapat bersaing di tingkat regional hingga nasional.
“Kutai Kartanegara memiliki kekayaan seni budaya yang luar biasa, dari tari-tarian tradisional, musik etnik, hingga ritual adat yang unik. Jika ini dikelola secara baik, bisa menjadi magnet pariwisata yang sangat kuat,” kata Sunggono saat ditemui pada Senin (07/07/2025).
Lebih jauh, Sunggono menekankan bahwa sektor seni dan budaya perlu didorong agar tidak hanya berorientasi pada pelestarian, tetapi juga diarahkan pada penguatan nilai ekonomi. Ia meyakini bahwa dengan pembinaan yang tepat, para pelaku seni dapat meningkatkan kesejahteraan sekaligus berkontribusi aktif dalam menghidupkan sektor pariwisata.
“Sektor ini bisa menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan daya saing destinasi wisata kita, dan bahkan memperkuat kebanggaan masyarakat lokal terhadap budayanya sendiri,” ujarnya.
Sebagai bentuk keseriusan, Pemkab Kukar telah menyusun pedoman teknis pembinaan seni budaya sebagai dasar pelaksanaan program-program pengembangan. Pedoman ini menjadi acuan agar langkah yang diambil tetap sejalan dengan arah kebijakan pembangunan daerah dan tidak berjalan sporadis.
Dalam konteks pengembangan pariwisata, Sunggono menyoroti pentingnya sinkronisasi antara program seni budaya dengan strategi pariwisata. Ia menginginkan agar seni budaya tidak berdiri sendiri, namun menjadi bagian dari daya tarik destinasi wisata di Kutai Kartanegara.
Misalnya, pelaksanaan event-event seni tradisional seperti festival budaya, pertunjukan kesenian rakyat, hingga pengembangan kampung budaya yang terintegrasi dengan destinasi wisata alam.
“Kita punya banyak referensi baik dari daerah lain maupun skala internasional. Seni dan budaya itu bisa dijual — bukan dalam arti harfiah menjual nilai-nilai sakral — tetapi menyajikannya dalam bentuk yang menarik bagi wisatawan tanpa mengurangi esensi tradisinya,” tegasnya.
Dalam era globalisasi yang begitu masif, identitas lokal sering kali tergerus oleh budaya luar. Karena itu, penguatan seni budaya di Kukar juga dimaksudkan sebagai upaya menjaga jati diri dan karakter masyarakat. Menurut Sunggono, daerah yang kuat secara budaya akan lebih tangguh dalam menghadapi tantangan zaman.
“Inilah pentingnya kita hadirkan program-program seni yang adaptif. Tradisi bisa tetap hidup dan berkembang tanpa kehilangan makna,” imbuhnya.
Pemkab Kukar berharap melalui pendekatan berbasis kebijakan yang terarah, sektor seni budaya dapat berkembang secara berkelanjutan dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat. Bukan hanya bagi pelaku seni, tetapi juga bagi pelaku UMKM, pelaku wisata, hingga generasi muda yang ingin mengenal budayanya lebih dalam.
Sunggono juga mengajak semua pihak — mulai dari dinas terkait, komunitas seni, akademisi, hingga sektor swasta — untuk bersama-sama membangun ekosistem seni budaya yang produktif dan inklusif.
“Mari kita jaga, rawat, dan kembangkan warisan budaya ini menjadi kekuatan baru Kukar. Bukan hanya untuk dinikmati hari ini, tetapi diwariskan untuk generasi mendatang,” pungkasnya.
Dengan langkah yang konsisten, Kukar optimis mampu menempatkan seni dan budaya sebagai penopang utama pembangunan ekonomi kreatif dan pariwisata daerah, sekaligus menjaga kekayaan budaya leluhur agar terus hidup di tengah masyarakat modern.(Adv)
Editor: Redaksi
