KITAMUDAMEDIA — Memasuki fase pergeseran jamaah dari Madinah ke Makkah, Arab Saudi, barang bawaan menjadi salah satu perhatian. Bawaan yang ‘beranak pinak’ dinilai dapat menghambat pergeseran atau pendorongan jemaah tersebut.
Kepala Daerah Kerja (Daker) Madinah, Khalilurrahman, menegaskan ada ketentuan yang harus dipahami oleh setiap jamaah terkait barang bawaan. “Yang boleh dibawa oleh jamaah itu hanya tiga macam yakni koper bagasi, koper kecil atau kabin, dan tas dokumen. Selebihnya, itu harus ditinggal karena ini akan menyulitkan tim transportasi,”kata dia, Sabtu (2/5/2026).
Dia menegaskan, fase penyelenggaraan ibadah haji sudah memasuki tahap krusial mengingat jamaah sudah berdatangan dari Tanah Air sekaligus adanya pergeseran jamaah haji dari Madinah menuju Makkah. Armada bus untuk mengangkut jamaah pun sudah mempertimbangkan barang bawaan berupa tiga aspek tersebut.
Kepala Seksi Transportasi Daker Madinah, Muslih, memastikan seluruh armada bus siap memfasilitasi pendorongan jamaah secara maksimal. Namun, ia juga memberikan catatan terkait barang bawaan jemaah yang sering kali melebihi kapasitas atau ‘beranak pinak’.
Muslih menegaskan bahwa armada transportasi yang disediakan telah dihitung secara presisi untuk mengangkut barang bawaan standar jamaah. Sesuai ketentuan, setiap jamaah berhak membawa satu koper besar, satu koper kecil dan satu tas dokumen.
“Seluruh bawaan standar tersebut dipastikan mampu terakomodasi oleh armada kami. Namun, jika barang bawaan jamaah beranak pinak atau bertambah di luar ketentuan, hal ini akan memakan space bagasi secara berlebihan,”kata dia.
Ia juga mengingatkan, egoisme dalam membawa barang berlebih dapat merugikan jamaah lain. “Kasihan jamaah yang sudah patuh pada aturan, mereka justru khawatir tidak mendapatkan ruang bagasi karena tertutup oleh barang tambahan rekannya,”kata dia.
Meski tidak ada pembatasan di bagasi bus, pihak Daker Madinah tetap mendukung semangat jamaah dalam mencari keberkahan lewat oleh-oleh. Namun, jamaah disarankan untuk lebih bijak dengan memanfaatkan teknologi dan layanan pengiriman. Apalagi saat ini sudah ada aplikasi ‘Haji & Umroh Store’ yang difasilitasi oleh Kemenhaj guna mendukung UMKM di Tanah Air.
Jamaah didorong untuk belanja oleh-oleh khas Tanah Suci melalui aplikasi tersebut. Dengan cara ini, barang belanjaan akan dikirim langsung ke rumah di Indonesia. Selain praktis, ini merupakan bentuk dukungan nyata terhadap ekosistem ekonomi haji tanah air.
Selain itu, jika jamaah tetap ingin berbelanja langsung di Madinah dalam jumlah banyak, disarankan untuk mengirimkannya melalui jasa kargo resmi agar tidak menumpuk di bagasi bus atau pesawat.
Muslih mengingatkan bahwa meski perjalanan dari Madinah ke Makkah dilakukan melalui jalur darat, yang secara teknis tidak memiliki batas berat seketat pesawat, justru masalah besar akan muncul saat kepulangan ke Indonesia.
“Jamaah harus ingat, saat nanti kembali ke tanah air menggunakan pesawat, ada regulasi berat bagasi yang sangat ketat. Barang yang berlebih akan terkena biaya tambahan (excess baggage) yang cukup mahal atau bahkan harus ditinggal,” katanya.
Oleh karena itu jamaah diimbau untuk tetap fokus pada ibadah dan menjaga ketertiban barang bawaan demi kelancaran mobilisasi selama di Tanah Suci.
Sumber: republika.co.id| Editor: Redaksi
