Awesome Logo
Tersedia ruang iklan, informasi hubungi 08125593271                    Segenap Pimpinan dan Redaksi Kita Muda Media Mengucapkan Marhaban ya... Ramadhan 1442 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin                    Patuhi Protokol Kesehatan dan Jaga Imunitas                    Follow Medsos KITAMUDAMEDIA FB : kitamudamedia, Fan Page FB : kitamudamedia.redaksi, IG : kitamudamedia.redaksi, Youtube : kitamudamedia official                                   Selamat Menjalankan Ibadah Puasa 1442 H                         

Bontang Surplus Listrik tapi Masih Byarpet, DPRD: Mati di Lumbung Padi! 

KITAMUDAMEDIA, Bontang – DPRD Kota Bontang menyayangkan pemadaman listrik bergilir yang terus terjadi, padahal produksi listrik Bontang tercatat surplus.

Perumpamaan “mati di lumbung padi” disuarakan keras oleh Ketua Komisi B DPRD Bontang, Rustam, saat meminta penegasan hak kelistrikan warga kepada pihak PLN.

Kegeraman tersebut disampaikannya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama PLN dan jajaran Pemerintah Kota Bontang, Selasa (15/9/2026). Rustam menilai kondisi saat ini sangat ironis karena Bontang memiliki kapasitas pembangkit listrik besar yang semestinya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan lokal.

“Jadi kita mati di lumbung padi. Ini surplus. Ternyata pembangkit listrik Bontang bisa hasilkan hampir 300 Megawatt, yang dibutuhkan di Bontang hanya 70 Megawatt. Jadi benar-benar kita mati di lumbung padi,” tegas Rustam.

Ia menegaskan, masyarakat tidak lagi membutuhkan alasan teknis, tetapi kepastian pasokan listrik. Rustam bahkan meminta PLN memastikan kebutuhan listrik Bontang dipenuhi terlebih dahulu sebelum pasokan dialirkan untuk kebutuhan wilayah lain melalui sistem interkoneksi.

“Intinya saya enggak mau tahu sekarang. Kasih kami listrik ini. Saya menuntut sekarang. Apa kata masyarakat, sebagai perwakilan Kota Bontang, saya menuntut hak kami,” ujarnya.

Menurut Rustam, persoalan tersebut menjadi semakin ironis karena listrik yang diproduksi di Bontang justru masuk dalam sistem interkoneksi yang melayani wilayah lebih luas.

Ia mempertanyakan mengapa daerah yang memiliki pembangkit sendiri masih harus mengalami pemadaman ketika kebutuhan listrik lokal dinilai tidak sebesar kapasitas yang tersedia.

“Bontang itu surplus, tapi celakanya surplusnya ini dibawa, dimakan oleh orang lain (daerah lain). Bukan ke tempat kami. Sementara kami kelaparan, Kota Bontang,” katanya.

Rustam juga menyoroti kondisi geografis Kalimantan Timur yang menurutnya menjadi tantangan tersendiri dalam pembangunan jaringan listrik antar daerah. Ia mempertanyakan efektivitas distribusi listrik melalui jaringan interkoneksi yang menjangkau wilayah luas.

Meski begitu, dirinya tidak mempermasalahkan jika listrik Bontang digunakan untuk menopang daerah lain, selama kebutuhan masyarakat Bontang terpenuhi lebih dulu.

“Boleh masuk akal, tapi kasih kami hak kami. Listrik ini ada di Kota Bontang, dimasak di sini. Masa mau kasih makan orang sana juga, sementara kami kelaparan?” tegasnya.

Rustam meminta PLN segera mencari solusi agar pemadaman tidak terus membebani masyarakat. Ia juga mengajak jajaran PLN untuk melihat persoalan tersebut bukan hanya dari sisi sistem, tetapi dari kepentingan warga Bontang yang terdampak langsung.

“Kita ini sudah surplus. Tapi listrik byarpet terus,” pungkas Rustam. (Adv)

Reporter : Yulia.C | Editor : Redaksi

Ikuti Fans Page Kami

Leave a Reply