KITAMUDAMEDIA, Bontang – Kapasitas RSUD Taman Husada Bontang mulai tertekan seiring tingginya kunjungan pasien. Setiap hari, sekitar 200 pasien mendatangi poliklinik, sementara tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) telah mencapai 80 persen.
Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang mempercepat rencana pembangunan Gedung C RSUD Taman Husada untuk menambah kapasitas pelayanan kesehatan.
Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni mengatakan, angka kunjungan tersebut baru berasal dari pasien poliklinik dan belum termasuk pasien yang menjalani rawat inap. Tingginya kunjungan membuat kapasitas rumah sakit perlu segera ditingkatkan
“Itu baru yang berobat ke poliklinik, belum lagi yang rawat inap,” kata Neni, Kamis (1/10/2026).
Menurutnya, peningkatan jumlah pasien tidak terlepas dari semakin lengkapnya fasilitas dan layanan medis yang tersedia di rumah sakit milik pemerintah daerah tersebut.
RSUD Taman Husada kini memiliki sejumlah layanan spesialis, mulai dari kemoterapi, urologi, penanganan kanker, bedah, hingga bedah saraf. Kelengkapan layanan itu membuat masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk mendapatkan penanganan medis di Bontang.
Dampaknya, pasien yang datang tidak hanya berasal dari dalam kota. Warga dari Sangatta, Kutai Timur, serta sejumlah wilayah di Kutai Kartanegara juga memanfaatkan layanan kesehatan di RSUD Taman Husada.
Arus pasien dari luar daerah turut menambah beban pelayanan rumah sakit. Sementara itu, penambahan kapasitas melalui pembangunan Gedung B sebelumnya dinilai belum mampu mengimbangi pertumbuhan kebutuhan layanan kesehatan.
Neni menyebut tingkat keterisian tempat tidur yang telah mencapai 80 persen menjadi perhatian pemerintah. Kondisi tersebut perlu diantisipasi agar rumah sakit tetap mampu melayani pasien dengan kapasitas yang memadai.
Karena itu, Pemkot Bontang berencana melanjutkan pengembangan rumah sakit melalui pembangunan Gedung C. Fasilitas baru tersebut diharapkan dapat menambah ruang pelayanan dan rawat inap sehingga mampu mengakomodasi peningkatan jumlah pasien.
Neni menjelaskan, rencana pembangunan Gedung C sebenarnya telah memiliki gambar perencanaan. Namun, proyek tersebut masih membutuhkan penyelesaian sejumlah persyaratan administratif dan teknis, terutama dokumen Analisis Dampak Lalu Lintas (Andalalin) serta Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).
Andalalin menjadi salah satu tahapan yang perlu diselesaikan karena akses di kawasan rumah sakit berkaitan dengan jalan nasional sehingga memerlukan koordinasi dengan pemerintah pusat.
Neni berharap seluruh persyaratan tersebut dapat dirampungkan pada tahun ini. Selanjutnya, Pemkot Bontang akan mengusulkan pembangunan Gedung C kepada Kementerian Kesehatan agar memperoleh dukungan pembiayaan dari pemerintah pusat.
Ia juga meminta Sekda yang baru dilantik untuk membantu mengoordinasikan penyelesaian berbagai persyaratan tersebut agar rencana pembangunan tidak kembali tertunda.
Meski mengupayakan anggaran dari pemerintah pusat, Pemkot Bontang turut menyiapkan alternatif pembiayaan melalui pinjaman PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) apabila usulan pendanaan tersebut belum terealisasi.
“Saya akan coba melakukan skema pinjaman lewat SMI khusus untuk membangunnya, supaya cepat dinikmati oleh masyarakat,” ujar Neni.
Ia menegaskan, pembangunan Gedung C diharapkan dapat direalisasikan sebelum masa jabatannya sebagai wali kota berakhir. Dengan demikian, penambahan fasilitas tersebut bisa segera dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat.
Meski demikian, realisasi proyek masih bergantung pada penyelesaian persyaratan teknis, kepastian pembiayaan, serta tahapan pembangunan yang harus dilalui.
“Insya Allah kita selesaikan tahun ini urusan perizinan nya, biar tahun depan sudah bisa dibangun,” tandasnya.(*)
Reporter: Yulia C. | Editor: Icha Nawir
