KITAMUDAMEDIA, Bontang – Insiden siswa SMP Vidatra yang mengalami mual hingga muntah berbuntut pemeriksaan ke dapur MBG. Hasilnya, Pemkot Bontang menemukan sejumlah hal yang dinilai belum ideal di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bontang Selatan 3.
Temuan itu muncul saat Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke SPPG Bontang Selatan, Selasa (11/8/2026).
Sidak dilakukan untuk melihat langsung proses pengolahan makanan dan kesiapan fasilitas SPPG. Pemeriksaan tersebut sekaligus memastikan hasil evaluasi yang sebelumnya disampaikan dalam rapat koordinasi benar-benar diterapkan di lapangan.
Dari pemeriksaan itu, Agus menemukan sejumlah bagian yang masih perlu diperbaiki, terutama tata ruang dan penerapan standar operasional prosedur (SOP).
Salah satu yang disorot ialah area penerimaan bahan dan makanan yang dinilai terlalu sempit dibandingkan dengan kapasitas produksi SPPG yang mencapai sekitar 2.673 porsi per hari.
“Kalau melayani 2 ribu porsi dengan ruang yang kecil itu jelas sempit. Jadi saya anggap masih belum ideal,” ujar Agus Haris saat meninjau fasilitas SPPG.
Persoalan lain ditemukan pada area penyimpanan. Sejumlah lemari penyimpanan makanan terlihat ditempatkan di atas permukaan kayu lapis yang dinilai kurang mendukung proses pembersihan secara optimal.
Agus meminta pengelola segera mengganti material tersebut dengan bahan yang lebih mudah dibersihkan dan tahan terhadap air.
“Kalau kena debu, sekali diusap kain basah dan kain kering insyaallah langsung bersih. Kebersihan dasar seperti ini tidak boleh diabaikan,” tegasnya.
Namun, Agus menilai persoalan yang lebih penting berada pada konsistensi petugas dalam menjalankan SOP yang telah ditetapkan. Menurutnya, alasan mengejar waktu distribusi tidak dapat menjadi pembenaran untuk mengabaikan prosedur keamanan pangan.
“SOP yang ditetapkan harus diikuti betul-betul. Jangan hanya karena ingin cepat selesai lalu aturan diabaikan,” katanya.
Ia juga meminta Kepala SPPG memperkuat pengawasan langsung selama proses produksi. Pengawasan, kata Agus, tidak cukup hanya dilakukan melalui administrasi, tetapi harus memastikan setiap tahapan pengolahan makanan berjalan sesuai ketentuan.
“Dalam setiap proses penyiapan makanan, Kepala SPPG harus ikut mengawasi prosesnya secara langsung. Jangan tidak berada di tempat saat produksi berlangsung,” ujarnya.
Baca Juga MBG SMP Vidatra Bontang Dihentikan Sementara Usai 36 Siswa dan Guru Sakit
Agus memastikan temuan dalam sidak tersebut akan menjadi bahan evaluasi Pemkot Bontang untuk memperbaiki sistem pengawasan sekaligus kelayakan fasilitas SPPG.
Ia berharap evaluasi setelah insiden di Vidatra tidak berhenti pada satu dapur, tetapi menjadi dasar untuk memperketat pengawasan terhadap seluruh penyelenggara MBG di Bontang.
“Saya tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi. Cukup ini menjadi bahan evaluasi berat untuk meningkatkan kualitas pelayanan,” pungkasnya.(*)
Reporter: Yulia C. | Editor: Icha Nawir
