KITAMUDAMEDIA, Bontang — Pemerintah Kota Bontang mematangkan rencana pembukaan rute pelayaran laut Bontang–Mamuju yang ditargetkan beroperasi pada 2026. Fokus utama kini tertuju pada kecocokan antara jenis kapal dan kesiapan pelabuhan agar target tidak kembali bergeser.
Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, menegaskan keselarasan spesifikasi kapal dengan infrastruktur pelabuhan merupakan tahapan krusial. Menurut dia, kekeliruan dalam menentukan pelabuhan tujuan berpotensi menghambat operasional.
“Jangan sampai kapalnya sudah kita ambil, ternyata pelabuhan di sana tidak sesuai secara fisik. Kalau harus membangun ulang pelabuhan, itu pasti lama dan target operasi 2026 bisa gagal,” ujar Agus Haris kepada awak media, Selasa (18/12/2025).
Untuk memastikan kesiapan tersebut, Pemkot Bontang berencana meninjau langsung sejumlah pelabuhan alternatif di Sulawesi Barat. Kunjungan ini dimaksudkan untuk menentukan pelabuhan yang paling sesuai dengan konsep layanan pelayaran yang dirancang.
“Kalau tidak minggu ini, paling lambat minggu depan saya ke sana. Kita ingin pastikan pelabuhan mana yang paling sesuai dengan jenis kapal yang akan kita operasikan,” katanya.
Agus Haris menjelaskan, kapal yang disiapkan bukan sekadar kapal penumpang, melainkan kapal laut multifungsi dengan tiga dek. Kapal ini dirancang mampu mengangkut penumpang, kendaraan, serta barang kebutuhan pokok.
“Kapal ini bisa mengangkut kendaraan, penumpang, dan barang. Beras, sembako, semuanya bisa. Ini penting supaya pasokan ke Bontang tidak hanya bergantung dari Pulau Jawa,” jelasnya.
Skema pelayaran ini diharapkan memperkuat ketahanan pasokan sekaligus menekan biaya distribusi. Berdasarkan hasil kajian, rute Bontang–Mamuju dinilai paling layak secara ekonomi dan tidak memerlukan subsidi dari pemerintah pusat.
“Bontang–Mamuju ini langsung untung. Proyeksi keuntungannya sekitar 19 persen sejak pelayaran pertama, karena selain penumpang juga ada kendaraan dan distribusi barang,” terangnya.
Sebaliknya, rute Bontang–Surabaya masih dinilai berat lantaran membutuhkan subsidi sekitar Rp1 miliar per bulan pada tahun pertama operasional. Dengan kondisi fiskal nasional saat ini, rute tersebut belum menjadi prioritas.
Saat ini, sejumlah pihak swasta telah menyatakan minat untuk mengoperasikan rute tersebut, di antaranya PT Global Indo dan ASDP dari Balikpapan. Meski begitu, Pemkot Bontang menegaskan akan selektif menentukan operator.
“Kami akan pilih yang paling menjanjikan. Aspek keselamatan, kondisi fisik kapal, kualitas pelayanan, dan kapasitas menjadi pertimbangan utama,” tegas Agus Haris.
Kapal yang dikaji memiliki kapasitas sekitar 300 hingga 500 penumpang beserta kendaraan, jumlah yang dinilai ideal untuk tahap awal operasional rute laut Bontang–Mamuju.(*)
Reporter: Yulia.C | Editor: Icha Nawir
