KITAMUDAMEDIA

Usai Muncul Keluhan Kesehatan, Pemkot Bontang Evaluasi Menu hingga Pengolahan MBG

Caption Foto: Pemkot Bontang menggelar rapat koordinasi pelaksanaan MBG di Gedung Tiga Dimensi, Selasa (11/8/2026).

KITAMUDAMEDIA, Bontang – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bontang kini mendapat sorotan dari sisi keamanan pangan setelah puluhan siswa dan guru dari beberapa sekolah dilaporkan mengalami keluhan kesehatan usai mengonsumsi makanan program tersebut.

Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang pun memperketat evaluasi terhadap pelaksanaan MBG. Pemeriksaan diarahkan tidak hanya pada menu, tetapi juga proses pengolahan hingga makanan diterima penerima manfaat.

Evaluasi dilakukan melalui rapat koordinasi pelaksanaan MBG di Gedung Tiga Dimensi, Selasa (11/8/2026). Dua pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diminta memaparkan secara terbuka tahapan pengolahan makanan, mulai dari bahan baku, proses memasak, hingga distribusi makanan kepada siswa dan guru.

Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris menegaskan, evaluasi diperlukan untuk memastikan seluruh tahapan pelaksanaan MBG berjalan sesuai standar operasional prosedur (SOP), terutama dalam aspek keamanan pangan.

“Kita mau tahu secara SOP seperti apa dan menu apa yang diberikan, jadi tolong kejujuran nya,” ujar Agus.

Salah satu SPPG yang menjadi perhatian ialah SPPG Bontang Selatan 5 Dapur Berbas Tengah 3 yang memasok makanan untuk SMP Vidatra.

Dalam rapat tersebut, Kepala SPPG Bontang Selatan 5 Gusti Bimantoro membeberkan menu yang dibagikan saat munculnya keluhan kesehatan. Menu tersebut terdiri atas nasi uduk tanpa santan, ayam suwir kemangi, oseng tahu, tumis pepaya wortel, serta yogurt.

Berdasarkan evaluasi awal internal, ayam suwir menjadi salah satu komponen makanan yang perlu diperiksa lebih lanjut. Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan sebagai penyebab munculnya keluhan mual dan muntah.

“Prediksi kami di ayam suwirnya, tapi kami masih menunggu sampel yang keluar dari Dinkes,” kata Gusti.

Sorotan serupa juga mengarah ke SPPG Bontang Utara 2 yang sebelumnya menjalani pemeriksaan Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang setelah adanya laporan keluhan kesehatan dari penerima manfaat di sejumlah sekolah.

Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan dari SPPG tersebut menunjukkan adanya pertumbuhan bakteri patogen pada sampel ayam goreng serundeng dan gulai sayur lodeh.

Kepala SPPG Bontang Utara 2 Muhammad Rizky mengatakan, pihaknya juga mengevaluasi penggunaan sejumlah bahan dalam proses memasak, termasuk kemiri yang digunakan sebagai pengganti santan.

Menurutnya, penggunaan kemiri dalam jumlah besar menjadi salah satu kemungkinan yang perlu diperhatikan. Namun, ia menegaskan hal tersebut belum dapat disebut sebagai penyebab pasti gangguan kesehatan.

“Mungkin penyebabnya dari kemiri, kami kemarin memakai sekitar 5kg kemikir, ini terlalu banyak. Ada yang mengalami, ada juga yang tidak,” ungkapnya.

Rizky menjelaskan, bahan baku seperti ayam filet, sayuran, bumbu, dan beras dipasok setiap hari. Bahan tersebut langsung digunakan dalam proses produksi sehingga tidak disimpan untuk pengolahan pada hari berikutnya.

Dalam kejadian yang dievaluasi, pihak SPPG mencatat 27 siswa dan guru mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan MBG. Mereka berasal dari sejumlah satuan pendidikan, di antaranya PAUD Al Hikmah dan SD 012.

“Yang terdampak 27 siswa dan guru. Kondisinya yang terdampak sudah aman,” jelasnya.

Meski demikian, Rizky menegaskan dugaan terkait penggunaan kemiri masih sebatas analisis internal dan belum menjadi kesimpulan mengenai penyebab gangguan kesehatan.

Pemkot Bontang kini masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut dari Dinkes untuk memastikan faktor yang menyebabkan munculnya keluhan kesehatan tersebut.

Evaluasi selanjutnya tidak hanya menyasar jenis menu, tetapi seluruh rantai penyediaan makanan, termasuk kualitas bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi ke sekolah.

Hasil pemeriksaan Dinkes akan menjadi dasar Pemkot Bontang dalam menentukan langkah perbaikan pelaksanaan MBG, terutama untuk memastikan program berjalan dengan tetap memenuhi aspek keamanan pangan dan kesehatan penerima manfaat. (*)

Reporter: Yulia C. | Editor: Icha Nawir

Exit mobile version