KITAMUDAMEDIA

Belajar dari Yokohama, Disdikbud Bontang Jajaki Program Sister School

Foto : Kunjungan rombongan guru dan kepala sekolah dari Kota Yokohama, Jepang di SDN 010 Bontang Utara, Selasa (18/8/2026)

Mood KITAMUDAMEDIA, Bontang – Cara guru berkomunikasi hingga pola siswa berdiskusi di ruang kelas menjadi bagian yang menarik perhatian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang saat menerima kunjungan rombongan guru dan kepala sekolah dari Kota Yokohama, Jepang.

Kunjungan yang berlangsung di SDN 010 Bontang Utara, Selasa (18/8/2026) lalu, tidak sekadar menjadi agenda pertukaran pengalaman. Disdikbud Bontang juga mulai melihat peluang membangun hubungan antarsekolah atau sister school dengan sekolah di Yokohama.

Kepala Disdikbud Kota Bontang, Abdu Safa Muha, mengungkapkan rombongan dipimpin seorang pengawas sekolah di Kota Yokohama yang ternyata merupakan putra asli Bontang dan telah menetap di Jepang selama 27 tahun.

“Pemimpin rombongan merupakan pengawas sekolah di Kota Yokohama. Beliau ternyata anak orang Bontang yang sudah 27 tahun tinggal di Jepang. Bersama beliau hadir kepala sekolah dan sejumlah guru dari beberapa sekolah di Yokohama,” ujarnya, Senin (24/8/2026).

Dari pertemuan tersebut, Disdikbud Bontang mendapat sejumlah masukan mengenai sistem pendidikan di Jepang yang dinilai berpotensi diterapkan di Bontang.

Salah satunya terkait penataan ruang guru. Di sekolah Jepang, ruang guru dibuat saling berhadapan untuk memudahkan komunikasi dan diskusi antarguru.

“Di Jepang ruang guru tidak disusun seperti yang biasa kita lihat, tetapi saling berhadapan. Tujuannya agar ketika ada persoalan atau ingin berdiskusi, para guru lebih mudah berkomunikasi saat waktu istirahat. Ini menjadi hal yang menarik dan layak kita tiru,” katanya.

Selain lingkungan kerja guru, pola pembelajaran juga menjadi perhatian. Safa menjelaskan, proses belajar di sekolah Jepang lebih menekankan keaktifan peserta didik. Guru berperan sebagai fasilitator yang menyiapkan tema dan suasana belajar, sementara sebagian besar proses pembelajaran berlangsung melalui diskusi antarsiswa.

“Peran guru di sana lebih sebagai fasilitator. Setelah memberikan pengantar, sekitar 80 hingga 90 persen kegiatan belajar dilakukan oleh siswa melalui diskusi, kemudian guru melakukan evaluasi. Pengalaman seperti ini memungkinkan untuk diterapkan di Bontang,” jelasnya.

Pertukaran pengalaman tersebut kemudian mengarah pada pembahasan kerja sama yang lebih luas. Disdikbud Bontang menjajaki kemungkinan membangun program sister school dengan sekolah di Yokohama.

Menurut Safa, peluang tersebut terbuka. Namun, pelaksanaannya membutuhkan dukungan kerja sama resmi antara pemerintah Indonesia dan Jepang.

“Kami sempat menanyakan kemungkinan membangun program sister school. Pada prinsipnya memungkinkan, tetapi harus didukung kerja sama antarpemerintah Indonesia dan Jepang,” pungkasnya. (Adv)

Reporter: Yulia.C | Editor: Icha Nawir

Exit mobile version