KITAMUDAMEDIA, Bontang – Krisis air bersih hingga kini masih menjadi permasalahan utama warga Pulau Gusung. Selama bertahun-tahun, ratusan warga pesisir ini harus rela bolak-balik ke daratan Bontang untuk mendapatkan air bersih.
Janji Pemerintah Kota Bontang terkait pemasangan pipa PDAM pada 2024 lalu belum juga terealisasi. Kondisi ini memaksa warga Pulau Gusung mengeluarkan biaya tambahan setidaknya Rp50.000 sekali jalan untuk transportasi dan membeli air bersih. Sebagian warga bahkan terpaksa menampung air hujan sebagai alternatif.
Ketua RT Pulau Gusung, Jumadi mengungkapkan selama bertahun-tahun warga harus bolak-balik ke darat untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Air tersebut terutama digunakan untuk memasak, sementara kebutuhan mandi dan mencuci kerap mengandalkan air hujan.
“Kalau untuk cuci baju dan mandi kita biasanya pakai air hujan, tapi kalau pas kemarau datang mau tidak mau harus tetap menyediakan air bersih, makanya kalau di Bontang hujan terus menerus, anggap saja itu doa kami yang di pesisir biar kami bisa tampung air bersih,” ungkapnya, ditemui beberapa waktu lalu.
Ia menjelaskan, dalam sekali jalan biasanya warga Gusung membawa sekitar 20 jeriken berisi air 20 liter. Air bersih itu dibeli di Guntung seharga Rp1.000 per 20 liter. Persediaan tersebut hanya bertahan sekitar dua hari untuk empat penghuni rumah. Jika jumlah penghuni lebih banyak, mereka harus setiap hari turun ke darat membeli air bersih.
“Kalau sore bisa dilihat itu, kalau suaminya pulang dari darat beli air, nanti istri-istri yang nyambut jerigen-jerigen itu naik ke dermaga, itu kami lakukan selama bertahun-tahun supaya kami bisa punya air bersih,” tandasnya.
Lebih lanjut, Jumadi menyebut untuk mendapatkan air bersih pun tidak mudah. Warga memerlukan waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke darat. Saat gelombang tinggi, perjalanan menjadi berbahaya karena mereka harus membawa jeriken berisi air sekitar 400 liter sekali jalan.
Samiati, salah satu warga Pulau Gusung, juga mengeluhkan kesulitan air bersih. Dengan penghasilan suami yang tidak menentu sebagai nelayan, ia harus menyisihkan uang paling tidak Rp50.000 setiap dua hari sekali untuk membeli air bersih. Ia berharap pemerintah segera menyalurkan air bersih ke Pulau Gusung agar warga dapat menikmatinya seperti masyarakat Bontang di daratan.
“Harapan saya, Pemerintah Bontang bisa memfasilitasi kami air bersih, karena itu sangat kami butuhkan,” tuturnya.(*)
Reporter: Yulia.C | Editor: Icha Nawir



