Awesome Logo
Tersedia ruang iklan, informasi hubungi 08125593271                    Segenap Pimpinan dan Redaksi Kita Muda Media Mengucapkan Marhaban ya... Ramadhan 1442 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin                    Patuhi Protokol Kesehatan dan Jaga Imunitas                    Follow Medsos KITAMUDAMEDIA FB : kitamudamedia, Fan Page FB : kitamudamedia.redaksi, IG : kitamudamedia.redaksi, Youtube : kitamudamedia official                                   Selamat Menjalankan Ibadah Puasa 1442 H                         

Vape 40 Kali Lebih Berbahaya: Dokter RSUD Bontang Ungkap Pelajar Mulai Merokok Sejak SD

KITAMUDAMEDIA, Bontang – Di tengah tren gaya hidup “moderen” di kalangan anak muda, fenomena meningkatnya perokok usia pelajar justru menjadi ironi baru di Bontang. Kondisi ini turut menjadi perhatian serius RSUD Taman Husada, terlebih setelah semakin banyak remaja datang dengan keluhan kesehatan terkait rokok.

Dokter spesialis paru RSUD Taman Husada Bontang, dr. Dian Ariani Tarigan, mengungkapkan fakta yang cukup mengejutkan. Banyak dari pasien paru yang ia tangani ternyata merupakan remaja yang sudah mengenal rokok sejak usia sekolah dasar.

“Sebagian besar mulai merokok sejak SMP. Bahkan ada yang mengaku sudah mengenal rokok sejak SD,” tuturnya dalam kegiatan penyuluhan kesehatan yang digelar pihak rumah sakit, beberapa waktu lalu.

Menurut dr. Dian, kebiasaan merokok di usia belia meningkatkan risiko berbagai penyakit paru. Ia menyebutkan kasus yang sering ditemui mulai dari TBC, pneumonia, kanker, hingga paru bocor.

“Rata-rata pasien paru adalah perokok aktif. Jarang yang tidak memiliki riwayat merokok,” ujarnya.

Yang turut menjadi sorotan adalah persepsi keliru di kalangan remaja bahwa vape lebih aman dibanding rokok. Padahal, kata dia, kenyataannya jauh berbeda.

“Ini keliru. Vape justru lebih berbahaya hingga 40 kali dibanding rokok biasa,” tegasnya.

Dampak vape tak hanya dirasakan pengguna, tetapi juga orang di sekitarnya. Paparan zat kimia di dalamnya dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada anak hingga meningkatkan risiko stunting. Sementara pada ibu hamil, paparan vape dapat memengaruhi pertumbuhan janin.

Untuk membantu remaja berhenti merokok, dr. Dian merekomendasikan langkah sederhana namun efektif, seperti mengalihkan aktivitas ke olahraga, membaca, atau melakukan hobi.

“Cara lain yang cukup efektif adalah mengonsumsi permen tanpa nikotin. Itu membantu mengalihkan rasa ingin merokok,” jelasnya.

Baca Juga  DPMPTSP Siapkan Sarpras Bagi Penyandang Disabilitas

Ia juga menekankan pentingnya lingkungan sosial dalam proses berhenti merokok. “Lingkungan sangat berpengaruh. Jika tetap berkumpul dengan perokok, keinginan itu akan kembali,” katanya.

Melihat tren meningkatnya perokok usia muda, ia berharap orang tua lebih peka terhadap perilaku anak dan memberikan edukasi sejak dini.

“Pencegahan harus dimulai dari rumah. Orang tua perlu memberi contoh dan pemahaman tentang bahaya rokok dan vape,” tutupnya. (Adv)

Redaksi

Ikuti Fans Page Kami

Leave a Reply