KITAMUDAMEDIA, Bontang – Kemunculan manusia silver di lampu merah Loktuan, dianggap mengganggu pengguna jalan. Hal tersebut menjadi fokus Satpol PP Kota Bontang untuk melakukan razia.
Kepala Bidang Penegakan Peraturan Perundang-Undangan (PPUD) Satpol PP Bontang, Eko Mashudi, mengatakan dalam waktu dekat pihaknya akan menelusuri serta melakukan razia, karena menjadi salah satu sasaran utama Satpol PP saat ini.
“Manusia silver sekarang ini menjadi sasaran kami, kami juga sempat datangi mereka tetapi malah kabur. Dan kami harus mengetahui kaburnya manusia silver ini kemana, dan lokasinya dimana saja, lewat mana kami akan tetap telusuri lagi”, ucapnya saat di wawancarai redaksi kitamudamedia.com, Selasa (04/07/2023).
Informasi awal yang diperoleh, manusia silver tersebut merupakan pendatang dari
Kota Samarinda, ke Bontang dengan membawa serta anak dan istrinya.
Sama halnya dengan munculnya badut, yakni di simpang empat lampu merah Loktuan, manusia silver dan badut tersebut berada di satu tempat yang sama. Diperkirakan, manusia silver dan badut ini adalah satu keluarga.
“Kami harapkan bisa menangkap manusia silver, serta badut yang mulai muncul di lampu merah Loktuan. Kami sudah berapa kali mengincar, hanya saja belum mendapatkannya”, paparnya.
Ditanya badut yang mangkal di pom bensin, Satpol PP tidak bisa mengamankan mereka, karena itu di tempat usaha dan sudah mendapatkan izin. Satpol PP akan mengamankan jika badut itu sudah berada di trotoar atau badan jalan.
“Jika dengan badut yang di pom bensin, itu kami tidak bisa mengamankan karena disana tempat usaha, sudah pasti mendapatkan izin, karena itu salah satu sebuah pertunjukan”, ucapnya.
Kedepan, Satpol PP akan memberikan sosialisasi terkait aturan mengamen di badan jalan kepada manusia silver dan badut. Jika mengulangi dalam waktu jangka 7 hari, akan diberi teguran kedua. Ketiga, jika didapati lagi mengulangi kesalahan yang sama, baru akan di proses untuk diberi tindakan, bisa dengan denda Rp 50 juta rupiah, atau dengan kurungan 6 bulan.
“Intinya, kami memberi teguran satu, teguran dua, dan teguran ketiga, baru kami akan eksekusi. Dalam peneguran itu biasa kami mengambil barangnya. Contoh seperti manusia silver, kami mengambil uangnya, badut kami mengambil kostumnya, atau pun pengamen kami mengambil gitarnya. Semuanya sama,” ucapnya.
Eko Mashudi berharap jika sudah diamankan dan diperingatkan mereka sudah tidak melakukan aksinya.
Reporter: Dwi S
Editor: Kartika Anwar
