KITAMUDAMEDIA, Kaltim – Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kalimantan Timur, Andi Satya Adi Saputra, menyoroti masihtingginya angka kehamilan di usia muda yang menjadi salah satu tantangan besar dalam upaya menurunkan angka stunting di Indonesia, khususnya di Kalimantan Timur.
Menurutnya, kehamilan pada usia muda bukan hanyaberdampak pada kondisi sosial dan ekonomi pasangan muda, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan pada anak, terutama terkait pertumbuhan dan perkembangan jangkapanjang.
“Pasangan muda umumnya belum siap secara mental, sosial, maupun ekonomi untuk menjalani peran sebagai orang tua. Ini berdampak langsung pada kualitas pengasuhan, termasuk dalampemenuhan gizi ibu dan anak,” jelas Andi Satya, Selasa (22/7/2025).
Ia mengingatkan bahwa usia ibu yang terlalu muda sering kali berkorelasi dengan kurangnya pengetahuan mengenai kesehatankehamilan, rendahnya kesadaran akan pentingnya gizi, dan keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan.
“Kondisi seperti ini sangat rentan menyebabkan stunting. Anak tidak mendapatkan nutrisi yang cukup, baik selama dalamkandungan maupun di awal kehidupan,” ujarnya.
Mengacu pada data Kementerian Kesehatan, anak-anak yang lahir dari ibu berusia muda memiliki risiko lebih tinggimengalami stunting dibandingkan anak-anak dari ibu dengankesiapan ekonomi dan sosial yang lebih baik.
Andi Satya menegaskan bahwa upaya menekan angka stunting tidak bisa dilepaskan dari edukasi tentang kesehatan reproduksidan perencanaan keluarga sejak dini.
“Remaja harus diberikan pemahaman yang memadai, terutamadi lingkungan sekolah. Mereka perlu tahu risiko besar darikehamilan di usia dini, tidak hanya bagi dirinya tetapi juga bagimasa depan anak yang akan dilahirkan,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa tanggung jawab dalam menjagakehamilan bukan hanya berada pada ibu, tetapi juga membutuhkan dukungan dari suami dan keluarga besar.
“Banyak pasangan muda kesulitan memenuhi kebutuhan gizikarena belum mandiri secara ekonomi. Ini menjadi beban gandayang akhirnya berdampak pada tumbuh kembang bayi,” lanjutnya.
Sebagai langkah konkret, Andi mendorong pemerintah daerahagar memperkuat program-program kesehatan ibu dan anak, terutama di wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi.
“Program makanan tambahan bagi ibu hamil dan bayi, layananpemeriksaan kehamilan berkala, serta penyuluhan gizi harusmenjadi prioritas. Pemerintah harus hadir lebih dekat kemasyarakat, terutama yang tinggal di daerah terpencil,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya pemerataan akses terhadaplayanan kesehatan, termasuk program edukasi gizi yang menyasar ibu hamil dan keluarga di kawasan dengan tingkatekonomi rendah.
“Nutrisi seperti zat besi, asam folat, dan mikronutrien lainnyasangat krusial bagi tumbuh kembang anak sejak dalamkandungan. Pemenuhan gizi yang tepat adalah investasi masa depan,” ujarnya.
Andi Satya berharap, dengan sinergi antara DPRD, pemerintahdaerah, dan elemen masyarakat, edukasi kesehatan reproduksidan akses layanan kesehatan ibu-anak dapat ditingkatkan secaraberkelanjutan. (Adv)



