
KITAMUDAMEDIA, Kutim – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutai Timur (Kutim) menegaskan fokus program 2025 diarahkan pada pencegahan hulu melalui penguatan layanan bagi Keluarga Berisiko Stunting (KRS) dan keluarga PUS 4T (terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering, terlalu dekat).
Langkah ini merupakan kelanjutan kebijakan perubahan anggaran tahun berjalan.
DPPKB menempatkan strategi pada intervensi awal agar risiko stunting dapat ditekan sebelum terjadi.
Program akan memprioritaskan edukasi, konseling keluarga berencana, serta tata kelola data yang akurat. DPPKB menyiapkan panduan teknis agar intervensi tepat sasaran dan berkelanjutan.
Keluarga sasaran akan mendapatkan pendampingan intensif melalui jaringan PLKB dan TPK di lapangan.Kepala Dinas DPPKB Kutim, Achmad Junaidi, menyebut fokus hulu menjadi kunci.
“Kami tidak menunggu stunting terjadi. Kami bekerja dari hulu dari faktor risiko keluarga agar kasus baru bisa dicegah,” ujarnya, Selasa (11/11/2025).
Menurutnya, penekanan pada PUS 4T adalah investasi paling efektif dalam jangka panjang.
Pendekatan tersebut akan disinergikan dengan perangkat kampanye komunikasi perubahan perilaku. Materi KIE disusun kontekstual sesuai budaya lokal dan kondisi sosial ekonomi.
DPPKB juga menyiapkan indikator capaian untuk mengukur dampak intervensi di tingkat rumah tangga.
Sasaran prioritas berasal dari pemetaan KRS semester terbaru. Pendekatan berbasis bukti (evidence-based) dipakai sebagai dasar penetapan lokus dan jenis bantuan.
“Data menjadi kompas kami. Tanpa data, intervensi mudah bias dan dampaknya rendah,” kata Junaidi.
Dengan penguatan layanan KB, jarak kelahiran diharapkan lebih ideal dan kesehatan ibu-anak meningkat. Di saat yang sama, literasi keluarga mengenai usia perkawinan juga diperkuat.
DPPKB memastikan keberlanjutan program dengan dukungan lintas sektor, dunia usaha, dan komunitas.(ADV)



