KITAMUDAMEDIA, Bontang – Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 di Kota Bontang tidak sepenuhnya dilakukan secara daring. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) menyesuaikan mekanisme pendaftaran dengan kondisi tiap wilayah, terutama daerah pesisir dan kawasan dengan jumlah pendaftar terbatas.
Sekretaris Disdikbud Bontang, Saparuddin, mengatakan kebijakan tersebut diambil karena jumlah calon siswa di beberapa wilayah lebih sedikit dibanding daya tampung sekolah. Kondisi itu membuat sistem daring dinilai tidak efisien.
“Kalau daya tampung lebih besar dari jumlah pendaftar, penggunaan sistem daring tidak terlalu dibutuhkan,” ujarnya, ditemui beberapa waktu lalu.
Di wilayah seperti Pulau Gusung dan Tihi-Tihi, pendaftaran selama ini dilakukan secara tatap muka. Cara tersebut dianggap lebih sederhana dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Selain itu, penerapan sistem daring memerlukan dukungan anggaran tambahan, yang dinilai tidak sebanding dengan jumlah peserta didik yang relatif sedikit.
Skema luring tidak hanya diterapkan di wilayah kepulauan, tetapi juga di daratan dengan jumlah lulusan terbatas, seperti Bontang Lestari. Di kawasan ini, lulusan sekolah dasar hanya berasal dari dua sekolah dengan total sekitar 60 siswa.
Dalam pelaksanaan SPMB tahun ini, Disdikbud mencatat tujuh sekolah menjadi fokus, baik jenjang SD maupun SMP. Daya tampung disusun berdasarkan kebutuhan riil dan mengacu pada petunjuk teknis yang berlaku.
Beberapa SD di wilayah pesisir membuka satu hingga dua rombongan belajar dengan kapasitas 28 hingga 64 siswa. Sementara di tingkat SMP, SMP Negeri 6 Bontang menjadi salah satu sekolah dengan daya tampung terbesar, mencapai 108 siswa.
“Daya tampung sudah kami sesuaikan dengan kebutuhan dan aturan yang ada,” jelas Saparuddin.
Disdikbud menyesuaikan mekanisme pendaftaran—daring maupun luring—berdasarkan kondisi wilayah agar proses penerimaan berjalan sesuai kebutuhan di lapangan.(adv)
Reporter: Yulia C. | Editor: Icha Nawir



