KITAMUDAMEDIA, Bontang – Rencana kenaikan tarif sewa lapak di Lapangan Bessai Berinta (Lang-Lang) mendapat penolakan dari para pedagang. Pasalnya besaran sewa yang diusulkan dinilai tidak sebanding dengan kondisi pendapatan yang kian menurun akibat sepinya pengunjung.
Ketua Asosiasi Pedagang, Asep Ridwan, mengatakan pedagang meminta pemerintah menurunkan biaya sewa lapak dari Rp819 ribu menjadi Rp300 ribu per bulan. Menurutnya, kondisi lapangan saat ini tidak memungkinkan pedagang menanggung beban sewa yang tinggi.
“Lapangan sekarang makin sepi. Kami keberatan kalau harus bayar Rp819 ribu per bulan. Keberatan itu sudah kami sampaikan minggu lalu ke Dispopar, katanya masih dikaji,” ujarnya kepada redaksi, Sabtu (7/2/2026).
Asep menyebut, pedagang pada prinsipnya tidak menolak kenaikan sewa jika pendapatan memadai. Namun realitas di lapangan menunjukkan omzet harian jauh menurun, terutama saat tidak ada kegiatan atau event.
“Kalau ramai seperti dulu, kami bersedia saja. Tapi sekarang sepi. Dalam sehari, kalau tidak ada acara, paling besar Rp150 ribu. Jadi sewa juga harus menyesuaikan,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Dewi, salah satu pedagang di kawasan tersebut. Ia mengaku pendapatan harian sangat fluktuatif. Dalam kondisi sepi, penghasilannya bahkan hanya Rp5.000 per hari.
“Kadang sehari cuma dapat lima ribu. Kalau ramai, paling seratus lima puluh ribu,” ungkapnya.
Selain sewa lapak, pedagang juga masih dibebani biaya utilitas. Dewi menyebut iuran air tetap harus dibayar meski tidak digunakan. “Air mau dipakai atau tidak tetap bayar Rp50 ribu per bulan. Listrik juga ada,” keluhnya.
Dengan kondisi tersebut, pedagang berharap pemerintah mempertimbangkan kemampuan ekonomi mereka sebelum menetapkan kebijakan baru. Menurut mereka, tingkat keramaian dan kestabilan pendapatan harus menjadi pertimbangan utama dalam penentuan tarif sewa.(*)
Reporter: Yulia C. | Editor: Icha Nawir



