KITAMUDAMEDIA, Bontang – Kasus keracunan puluhan siswa SD dan SMP Vidatra setelah menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG) mulai menemukan titik terang. Hasil pemeriksaan laboratorium Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bontang menemukan bakteri patogen pada salah satu menu yang dibagikan kepada siswa.
Menu tersebut adalah ayam suwir kemangi. Dari empat sampel makanan yang diperiksa, hanya menu tersebut yang dinyatakan positif mengandung bakteri patogen.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bontang, Sudirman, mengatakan tiga menu lainnya, yakni nasi uduk, tahu goreng, serta tumis wortel dan kates, tidak menunjukkan adanya kontaminasi.
“Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan dari empat sampel menu yang diuji, ayam suwir kemangi positif mengandung bakteri patogen,” ujar Sudirman.
Temuan itu kemudian ditindaklanjuti dengan inspeksi terhadap proses pengolahan makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bontang Selatan 5.
Dari penelusuran tersebut, Dinkes menemukan sejumlah titik yang berpotensi memicu kontaminasi.
Salah satunya proses pendinginan makanan dan pemorsian yang dilakukan di ruangan yang sama.
Penggunaan kemangi mentah dalam penyajian makanan juga menjadi perhatian. Dinkes masih menunggu hasil pemeriksaan kualitas air yang digunakan untuk mencuci sayuran guna memastikan kemungkinan sumber bakteri.
Selain itu, penggunaan ayam beku (frozen) akan dievaluasi bersama Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3).
Persoalan lain yang ikut disoroti adalah rentang waktu sejak makanan selesai dimasak hingga dikonsumsi siswa. Berdasarkan evaluasi sementara, makanan diperkirakan baru disantap sekitar 10 jam setelah dimasak.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi kualitas makanan dan menjadi bagian penting dalam evaluasi untuk mencegah kejadian serupa.
“Selain proses pengolahan, jeda waktu dari makanan dimasak hingga diterima siswa juga menjadi faktor yang kami evaluasi. Ini bisa menjadi salah satu penyebab yang perlu diperhatikan agar kejadian serupa tidak terulang,” tambah Sudirman.
Meski ditemukan bakteri patogen, Sudirman menjelaskan keberadaan bakteri tersebut tidak serta-merta membuat seluruh penerima makanan mengalami keracunan. Kondisi kesehatan dan daya tahan tubuh masing-masing individu turut memengaruhi munculnya gejala.
Dalam kasus tersebut, sejumlah siswa mengalami keluhan, seperti sakit perut dan sakit kepala. Sebanyak 30 siswa sempat menjalani perawatan di rumah sakit, sedangkan 13 siswa harus menjalani rawat inap sebelum kondisi mereka berangsur membaik.
Seluruh hasil pemeriksaan laboratorium selanjutnya akan dilaporkan kepada Badan Gizi Nasional (BGN). Laporan tersebut menjadi bahan evaluasi terhadap sistem pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan dalam pelaksanaan program MBG.
Evaluasi itu diharapkan dapat menjadi dasar perbaikan agar potensi kontaminasi dalam proses penyediaan makanan dapat ditekan dan kejadian serupa tidak kembali terjadi.(*)
Reporter: Yulia.C | Editor: Icha Nawir



