Awesome Logo
Tersedia ruang iklan, informasi hubungi 08125593271                    Segenap Pimpinan dan Redaksi Kita Muda Media Mengucapkan Marhaban ya... Ramadhan 1442 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin                    Patuhi Protokol Kesehatan dan Jaga Imunitas                    Follow Medsos KITAMUDAMEDIA FB : kitamudamedia, Fan Page FB : kitamudamedia.redaksi, IG : kitamudamedia.redaksi, Youtube : kitamudamedia official                                   Selamat Menjalankan Ibadah Puasa 1442 H                         

Greenpeace Indonesia Temukan Lebih dari 500 Titik Karhutla di Kalimantan

KITAMUDAMEDIA —  Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan meluas dan sudah melintasi Serawak, Malaysia. Dari pemantauan Greenpeace Indonesia, ditemukan total 592 titik sumber asap, dengan 455 di antaranya berada di lanskap gambut.

Organisasi tersebut melakukan pemantauan pada periode 11-16 Agustus 2026 dan menemukan bahwa jumlah titik sumber asap karhutla meningkat serta meluas. Sebanyak 322 titik sumber asap terdeteksi di Kalimantan Barat, kemudian 181 titik di Kalimantan Tengah, dan 86 titik di Kalimantan Selatan.
Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Belgis Habiba mengatakan, pemerintah harus lebih serius memastikan rakyat terbebas dari karhutla. “Negara harus serius memutus siklus karhutla, bukan hanya menganggap ini sebagai ‘peristiwa’ tahunan,” kata Belgis.

Menurut Greenpeace Indonesia, pemerintah memperlakukan karhutla sebagai bencana musiman yang baru ditangani ketika api telah membesar dan asap memenuhi udara. Dalam instruksi Presiden Prabowo Subianto melalui Menteri Sekretariat Negara pada 11 Agustus 2026, penanganan karhutla dilakukan dengan operasi modifikasi cuaca.

Peneliti senior Greenpeace Indonesia Sapta Ananda Proklamasi mengatakan operasi modifikasi cuaca tak cukup untuk menghentikan karhutla. “Operasi modifikasi cuaca itu bukan jawaban yang pas. Negara punya sumber daya yang banyak bisa memberikan solusi-solusi yang nyata.

Menurut Sapta, modifikasi cuaca bukan cara untuk mengantisipasi terjadinya karhutla, tetapi respons yang membutuhkan sumber daya besar. “Seharusnya antisipasi lebih ke akar-akar masalah. Masalah sumber daya air, kekritisan air, kemudian kerentanan kebakaran di rawa, di daerah gambut yang rusak, itu yang seharusnya diperbaiki,” tuturnya.

Dampak karhutla Greenpeace Indonesia juga menyebutkan, asap dari karhutla yang masif berdampak langsung pada kualitas udara yang buruk dan juga kesehatan masyarakat. Data IQAir sejak 31 Juli 2026 menunjukkan kualitas udara di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, berada pada kategori tidak sehat. Sementara itu, di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, kualitas udara bahkan sempat mencapai kategori berbahaya (hazardous).

Baca Juga  BGN ke Dapur MBG: Anggaran Jangan Di-Mark Up, Harus Ada Dua Lauk

Akibatnya, kasus ISPA turut meningkat. Di Kalimantan Barat, Dinas Kesehatan menyebut kasus ISPA naik sebanyak 5 persen. Sementara itu, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah mencatat sebanyak 2.052 kasus ISPA selama periode 7-14 Agustus 2026. Bahkan, hanya dalam satu hari, tepatnya 11 Agustus, terdapat tambahan 600 kasus dengan sembilan pasien harus menjalani perawatan inap.

Salah seorang warga Palangka Raya, Janang Firman, mengungkapkan bahwa paparan asap tebal sudah menyelimuti area Jalan G. Obos sejak pagi hari. “Jalan G. Obos makin pekat, cuma aku tadi jam 6-an (pagi) lihatnya sebelum ke bandara,” ujar Janang, seperti diberitakan Kompas.com, Kamis (20/8/2026).

Sementara itu, warga Palangka Raya lainnya, Marifka Wahyu, menyebutkan bahwa asap pekat memenuhi sekitar Jalan Yos Soedarso yang bersinggungan dengan Jalan Trans Kalimantan. “Yos Soedarso, dan pertigaan lingkar luar (Trans Kalimantan), itu asapnya pekat, dan baunya terasa sekali,” ungkap Wahyu kepada Kompas.com.

Keluhan soal kabut asap akibat karhutla juga disampaikan warga Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Kabut asap telah melanda sejak sebulan terakhir. Nuraini, pedagang nasi kuning di sekitar Landasan Ulin mengatakan, pernah merasakan sesak napas dan mata perih akibat kabut asap. “Terutama (kabut asap) memang di pagi hari. Kalau sudah siang arah angin berubah, kabut geser ke daerah lain,” ujar Nuraini, seperti diberitakan Kompas.com, Kamis (20/8/2026).

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI Vahd Nabyl Achmad Mulachela memastikan, pemerintah Indonesia terus berupaya menangani karhutla yang terjadi di Kalimantan. Sebagaimana diberitakan Kompas.com, 13 Agustus 2026, hal ini disampaikan merespons asap karhutla yang masuk ke wilayah Sarawak, Malaysia,

“Pemerintah secara umumnya itu melakukan berbagai koordinasi untuk langkah-langkah pencegahan dan juga penanganan yang terpadu dengan meminimalisir dampak ini bagi masyarakat dan juga bagi lingkungan,” ujar Nabyl di Kantor Kemenlu, Jakarta Pusat. Ia mengatakan, pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk memadamkan api, seperti skema water bombing hingga modifikasi cuaca.

Baca Juga  Termahal Di Dunia, Permen Karet Bekas Sir Ferguson Laku 7,3 Miliar

Pemerintah akan terus melakukan upaya pemadaman karhutla dengan atau tidak adanya protes dari negara tetangga. “Jadi langkah-langkah ini dilakukan secara ongoing terlepas dari ada atau tidaknya keberatan resmi yang kita terima dari negara mana pun,” tuturnya.

Sumber: kompas. com| Editor: Redaksi

Ikuti Fans Page Kami

Leave a Reply