Kreatif, Pelajar Surabaya Sulap Minyak Jelantah Jadi Sabun Cuci Tangan

KITAMUDAMEDIA – Proses belajar mengajar beralih ke daring tak membuat pelajar ini terhalang melakukan kreativitas. Terlebih membuat karya yang bisa dimanfaatkan banyak orang saat pandemi COVID-19. Seperti Davin Nayaka Manzila, pelajar kelas 9 SMPN 2 Kota Surabaya ini membuat kreativitas dengan memanfaatkan limbah minyak jelantah. Selama sekolah tatap muka dialihkan di rumah, selain belajar, gadis yang kerap disapa Davin ini mengumpulkan limbah minyak jelantah dari tetangga, saudara hingga teman-temannya.
Limbah tersebut akan diolah menjadi Samijel (Sabun minyak jelantah). Menurutnya, limbah minyak jelantah mudah ditemukan. Apalagi, limbah minyak jelantah juga memiliki dampak buruk bagi tubuh. Seperti risiko kanker, bakteri, hingga obesitas. “Untuk lingkungan, contoh kecilnya ketika kita membuang ke saluran air rumah, lama kelamaan akan mengendap atau menyumbat saluran tersebut. Kalau minyak jelantah mengalir menuju sungai atau laut akan merusak ekosistem air akan terganggu,” kata Davin, Selasa (15/9/2020).
Untuk pembuatannya sendiri, pertama-tama Davin mengumpulkan ampas tebu dari para pedagang. Kemudian dijemur selama 1-2 hari sampai kering. Saat kering, limbah minyak jelantah disiram dan masuk kedalam pori-pori ampas tebu. Setelah itu direndam selama 72 jam atau 3 hari. Karena dengan ampas tebu akan mengurangi kadar asam lemak bebas secara signifikan, dari 0,30% menjadi 0,15%. Sehingga minyak jelantah dapat diolah kembali menjadi bahan lain yang lebih bermanfaat.
Setelah jernih dilarutkan dengan NaOH (Natrium hidroksida) dengan air di tempat yang terbuka. Karena larutan ini bisa merusak organ pernafasan. Setelah larut ditunggu sampai dingin,” ujarnya. Lalu, NaOH diolah dengan limbah minyak jelantah yang sudah jernih, diblender, dicampurkan pewarna dan perasa makanan. Jika limbah ini menggunakan bahan kimia akan menimbulkan aroma tidak sedap dan mengganggu area penciuman. Berbeda dengan warna makanan yang bukan kimia, karena aman saat digunakan mencuci kain dan tidak lengket.
Setelah diblender, dimasukkan cetakan ditunggu satu hari, setelah satu hari dicetak, dianginkan selama satu bulan agar terjadi saponifikasi (reaksi hidrolisis asam lemak oleh adanya basa kuat) proses memulainya zat NaOH yang digunakan pada proses produksi. Terus sabun bisa digunakan cuci tangan, kain. Sabun tidak untuk badan karena bahan utama limbah minyak jelantah,” jelasnya. Hingga kini, Davin sudah mengolah sebanyak 57 liter limbah minyak jelantah dari orang-orang di sekitarnya. Ditambah 5 liter yang diberikan Wali Kota Tri Rismaharini pada Jumat (10/9/2020) lalu.
“Yang memberi saya minyak jelantah, maka saya akan menggantinya dengan sabun sebagai barter. Sehingga tidak merusak alam,” kata dia. Samijel yang dibuatnya pun ada berbagai varian aroma. Yakni, anggur, melon, lemon, pandan, mawar, sereh, stroberi dan kopi. Sudah ada 62 liter samijel cair, 55 batang dan samijel colek sebanyak 17 kg. Ke depan, Davin akan meneruskan dan mengembangkan projeknya. “Harapan saya, banyak orang yang sadar minyak jelantah berdampak buruk bagi alam dan tubuh kita. Karena bukan alam yang butuh kita, tapi kita yang butuh alam,” harapnya. (Detik)

Editor : Redaksi

Leave a Reply