Hari Kedua, Jurnalis Bontang Akhirnya Boleh Meliput HKAN

KITAMUDAMEDIA, Bontang – Setelah tak diberi akses peliputan, jurnalis Bontang akhirnya diperbolehkan melakukan peliputan kegiatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) di hari kedua, Rabu (16/9/2020). Acara hari kedua perayaan HKAN ini dihadiri Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Alue Dohong.

Sekitar 20 wartawan ikut meliput. Namun ada mekanisme yang harus diikuti. Mulai dari registrasi, hingga wajib membawa badge khusus dari panitia. Awak media juga dibekali dengan Alat Pelindung Diri (APD) berupa face shield. Kemudian diminta berkumpul di halaman DPM-PTSP, dan diantar menggunakan minibus ke lokasi perayaan HKAN. Jarak pun diatur.

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Bontang, Suriadi Said kembali angkat bicara. Ia yang sebelumnya menyayangkan pembatasan terhadap media Bontang menyebut persoalan ini sudah klir. Pihak panitia yang dimediasi oleh Humas Pemkot pun telah memperkenankan pewarta Bontang meliput kegiatan puncak peringatan HKAN.

“Masalah ini sudah beres. Sudah boleh meliput, dengan catatan mematuhi protokol kesehatan Covid-19, serta protokol kementerian KLH,” ujarnya.

Sementara, Salah seorang jurnalis, Fitri Wahyuningsih menyebut kegiatan tersebut terbilang ramai dan tertib. Tidak ada sampah berserakan, karena panitia memang enggan menggunakan plastik pakai selama kegiatan berlangsung. Namun ia menyayangkan tidak adanya ruang untuk wawancara. Baik pers conferense maupun doorstop.

“Tapi sayang tidak ada ruang untuk wawancara, tidak ada pers conference, tidak bisa doorstop, untuk jurnalis daerah seperti kami ini, momen bertemu beliau jarang sekali,” kata wanita berkacamata tersebut.

Diketahui, peringatan HKAN di Bontang ini dihadiri oleh 71 UPT terdiri dari 40 Balai Taman Nasional, dan 31 Balai Konservasi Sumber Daya Alam se-Indonesia. Masing-masing UPT mengirimkan 3 orang perwakilannya.

Rangkaian kegiatan peringatan HKAN yang dilaksanakan selama dua hari yakni 15-16 September 2020, diantaranya yakni bedah buku, pemberian Anugerah Konservasi Alam, penanaman mangrove serta pelepasliaran satwa.

Reporter : Yulianti Basri

Editor : Kartika Anwar

Leave a Reply