KITAMUDAMEDIA, Bontang – Realisasi penerimaan Pajak Daerah Kota Bontang pada triwulan pertama tahun 2025 mencapai Rp 31,76 miliar. Angka tersebut setara dengan 14,44 persen dari total target yang ditetapkan untuk tahun anggaran 2025 sebesar Rp 220 miliar.
“Target penerimaan Pajak Daerah tahun ini ditetapkan sebesar Rp 220 miliar. Sampai akhir Maret 2025, penerimaan yang berhasil dihimpun Rp 31,7 miliar,” ungkap Kepala Bapenda Bontang, Syahruddin saat ditemui di kantornya, Rabu (30/4/2025).
Dari data rekapitulasi Bapenda, kontribusi terbesar berasal dari Pajak Penerangan Jalan (PPJ) atau Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) Tenaga Listrik yang mencapai Rp9,76 miliar atau 22,96 persen dari target Rp42,5 miliar. Pajak restoran menyusul dengan capaian Rp4,8 miliar (21,85 persen) dari target Rp22,3 miliar. Selanjutnya, opsen Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) menyumbang Rp4,12 miliar (17,24 persen) dari target Rp23,9 miliar.
Sementara itu, Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) mencatatkan realisasi Rp3,77 miliar (5,41 persen), serta Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) sebesar Rp3,70 miliar (10,43 persen).
Syahruddin menjelaskan bahwa capaian PBB masih rendah karena tren pembayaran pajak ini biasanya meningkat pada triwulan kedua dan ketiga.
“Di sektor pajak sendiri, kalau yang paling berkontribusi untuk PAD (Pendapatan Asli Daerah) secara keseluruhan itu sebenarnya PBB. Cuman ini kan baru triwulan pertama. Biasanya masyarakat banyak yang bayar PBB itu di triwulan kedua dan ketiga,” terangnya.
Dikatakan Syahruddin, sektor industri tercatat sebagai penyumbang pendapatan yang paling stabil bagi PAD Bontang, khususnya melalui PBJT Tenaga Listrik yang berasal dari perusahaan besar di Bontang. Sementara itu, sektor konsumsi seperti makanan dan minuman cenderung fluktuatif karena dipengaruhi daya beli dan kondisi ekonomi.
“Kalau pendapatan yang stabil itu PBJT Tenaga Listrik, dari perusahaan seperti Pupuk Kaltim, KDM, KMI. Tapi kalau pajak makan dan minuman itu kadang-kadang bisa berkurang, tergantung dinamika perekonomian,” ujarnya.
Meski baru menembus 14 persen dari target, Bapenda tetap optimistis mampu mencapai target penerimaan hingga akhir tahun anggaran 2025.
“Optimis, harus dikejar, harus kerja keras. Makanya tim kami setiap hari turun ke lapangan nagih, mendata objek pajak, melakukan pendekatan ke masyarakat supaya bayar pajak,” pungkasnya.(*)
Redaksi



