Awesome Logo
Tersedia ruang iklan, informasi hubungi 08125593271                    Segenap Pimpinan dan Redaksi Kita Muda Media Mengucapkan Marhaban ya... Ramadhan 1442 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin                    Patuhi Protokol Kesehatan dan Jaga Imunitas                    Follow Medsos KITAMUDAMEDIA FB : kitamudamedia, Fan Page FB : kitamudamedia.redaksi, IG : kitamudamedia.redaksi, Youtube : kitamudamedia official                                   Selamat Menjalankan Ibadah Puasa 1442 H                         

Kolaborasi dan Intervensi Spesifik Jadi Kunci Penanganan Stunting di Kembang Janggut

KITAMUDAMEDIA, Tenggarong – Upaya percepatan penurunan stunting di wilayah pedalaman Kutai Kartanegara terus diperkuat melalui berbagai langkah terarah. Hal ini disampaikan dalam kegiatan Rembuk Stunting Kecamatan Kembang Janggut yang digelar di Desa Long Beleh Haloq, Kamis (10/7/2025), di mana Plt. Camat Kembang Janggut, Suhartono, menegaskan bahwa intervensi tidak dapat dilakukan secara umum, melainkan harus disesuaikan dengan kondisi nyata wilayah.

Suhartono menyampaikan bahwa setiap desa memiliki kondisi geografis, sosial, dan ekonomi yang berbeda. Karena itu, upaya penanganan stunting perlu dirancang secara lebih spesifik, dengan mempertimbangkan kebutuhan serta tantangan yang dihadapi di masing-masing daerah.

“Permasalahan stunting tidak bisa ditangani dengan pendekatan seragam. Masing-masing desa punya situasi dan tantangan sendiri. Oleh karena itu, program harus disusun dengan dasar data yang akurat dan aspirasi dari masyarakat setempat,” ujarnya.

Dijelaskan stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis dalam jangka waktu lama, terutama pada periode 1.000 hari pertama kehidupan. Kondisi ini tidak hanya ditandai dengan tinggi badan yang lebih rendah dari standar usianya, tetapi juga berdampak pada perkembangan kognitif, daya tahan tubuh, serta produktivitas di masa depan. Penanganan stunting membutuhkan pendekatan terpadu yang melibatkan perbaikan pola asuh, pemenuhan gizi seimbang, akses layanan kesehatan, serta dukungan sanitasi dan lingkungan yang sehat. Upaya pencegahan sejak dini menjadi kunci agar generasi mendatang dapat tumbuh optimal dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis dalam jangka waktu lama, terutama pada periode 1.000 hari pertama kehidupan. Kondisi ini tidak hanya ditandai dengan tinggi badan yang lebih rendah dari standar usianya, tetapi juga berdampak pada perkembangan kognitif, daya tahan tubuh, serta produktivitas di masa depan. Penanganan stunting membutuhkan pendekatan terpadu yang melibatkan perbaikan pola asuh, pemenuhan gizi seimbang, akses layanan kesehatan, serta dukungan sanitasi dan lingkungan yang sehat.

Baca Juga  Presiden Prabowo Dorong Kesejahteraan ASN, TNI/Polri, dan Guru Melalui Rencana Kenaikan Gaji

Selain itu, upaya percepatan penurunan stunting juga sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, kader posyandu, hingga peran aktif masyarakat. Sinergi ini penting untuk memastikan intervensi yang dilakukan berjalan efektif, tepat sasaran, dan berkelanjutan, sehingga mampu menciptakan generasi yang lebih sehat dan berkualitas di masa depan.

Ia juga mengingatkan agar rembuk stunting tidak menjadi ajang seremonial belaka yang hanya menghasilkan laporan di atas kertas tanpa realisasi. Rembuk, menurutnya, harus benar-benar menjadi forum strategis dalam merancang dan mengeksekusi program penanganan stunting di lapangan.

“Kita harus mendorong agar hasil rembuk ini tidak berhenti sebagai dokumen. Harus ada langkah nyata yang bisa langsung dijalankan di lapangan. Jangan sampai hanya jadi rutinitas tahunan tanpa output yang jelas,” tegas Suhartono.

Acara rembuk tersebut dihadiri oleh berbagai elemen penting seperti Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB), PANSIMAS, pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), serta tokoh dan masyarakat desa Long Beleh Haloq. Diskusi berjalan dinamis, dengan banyak masukan konstruktif dari peserta terkait penguatan pola makan anak, akses air bersih, pemberdayaan ekonomi keluarga, hingga peningkatan peran kader Posyandu.

Suhartono juga menambahkan bahwa keberhasilan program penurunan stunting sangat ditentukan oleh keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Pemerintah desa, kata dia, harus diberi ruang lebih luas untuk memimpin pelaksanaan program di tingkat lokal dengan pendampingan teknis dari dinas terkait.

“Kunci keberhasilan ada pada sinergi. Tidak bisa hanya satu pihak yang bergerak. Kita harus bangun kolaborasi dan komitmen bersama. Membangun generasi sehat adalah tugas kita semua,” ujarnya penuh harap.

Masyarakat diimbau untuk turut berperan aktif dalam upaya pencegahan stunting dengan memperhatikan pemenuhan gizi seimbang, terutama bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita. Selain itu, penting untuk rutin memanfaatkan layanan kesehatan seperti posyandu, menjaga kebersihan lingkungan, serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari. Peran keluarga sebagai lingkungan terdekat anak juga sangat menentukan, sehingga kesadaran dan kepedulian bersama menjadi kunci dalam menciptakan generasi yang sehat, kuat, dan bebas dari stunting.

Baca Juga  Masih Pandemi, Tahun Ajaran Baru Siswa Belajar dari Rumah

Dengan upaya terpadu seperti ini, Kecamatan Kembang Janggut diharapkan mampu mencetak generasi muda yang sehat, cerdas, dan bebas dari stunting, menjadi bagian dari masa depan cerah Kabupaten Kutai Kartanegara.(*Adv)

Editor: Redaksi

Ikuti Fans Page Kami

Leave a Reply