
KITAMUDAMEDIA, Kutim – Upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Kutai Timur kini diperkuat dengan lahirnya inovasi baru dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (DPPKB).
Program bernama Akur Besty atau Akurasi Data Bersama Tim Stunting dan Kader Posyandu tersebut resmi diperkenalkan sebagai strategi untuk memastikan pendataan kesehatan anak di lapangan lebih tepat dan terpadu.
Kepala DPPKB Kutim, Ahmad Junaedi, menjelaskan bahwa kehadiran program ini berangkat dari kebutuhan menyamakan kualitas data antarinstansi yang selama ini kerap berbeda.
“Penanganan stunting sangat bergantung pada ketepatan informasi. Saat datanya jelas dan diperbarui bersama, kita tahu secara pasti lokasi dan kelompok yang harus segera mendapat intervensi,” ungkapnya, Kamis (20/11/2025).
Program Akur Besty melibatkan kader Posyandu, TP PKK, perangkat desa, dan tim teknis di kecamatan sehingga para kader dibekali pelatihan mengenai cara pencatatan, pelaporan, hingga membaca data perkembangan anak.
Pendekatan ini tidak hanya menunggu laporan masuk, tetapi juga mendorong validasi langsung di lapangan agar setiap kasus berisiko dapat segera ditindaklanjuti.
DPPKB Kutim turut mengoptimalkan sistem digital untuk mempercepat proses input dan pengiriman data.
Melalui aplikasi yang terhubung dengan puskesmas dan dinas terkait, kader dapat mengunggah informasi secara real-time sehingga keputusan intervensi gizi atau pendampingan keluarga bisa dibuat lebih cepat.
Selain memperkuat kualitas data, program ini juga mendorong sinergi antarperangkat daerah seperti Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan.
Kolaborasi ini dirancang agar upaya penurunan stunting tidak hanya bertumpu pada sektor kesehatan, tetapi menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan hingga tingkat desa.
Ahmad menegaskan bahwa inovasi tersebut merupakan langkah jangka panjang dalam mengejar target nasional.
“Akur Besty kami siapkan sebagai fondasi untuk memastikan setiap anak Kutai Timur mendapat kesempatan tumbuh secara optimal,” pungkasnya.
Program ini mendapat respons positif dari masyarakat dan diharapkan dapat menjadi contoh inovasi daerah di Kalimantan Timur dalam penanganan stunting berbasis kolaboratif dan teknologi.(ADV)



