KITAMUDAMEDIA, Bontang – Ribuan warga Bontang mendadak kehilangan jaminan kesehatan dari pusat. Sebanyak 2.753 peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan dipastikan tidak lagi dibiayai APBN mulai 2026.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, mengatakan informasi penghentian bantuan itu baru diterima dan segera ditindaklanjuti dengan menyiapkan pengalihan pembiayaan melalui APBD agar layanan kesehatan warga tidak terhenti.
“2.753 peserta yang sebelumnya dibiayai melalui PBI APBN tahun ini tidak lagi dilanjutkan, dari pusat diberhentikan,” ujarnya kepada awak media, Rabu (15/4/2026).
Hingga kini, Pemkot masih menunggu penjelasan resmi terkait alasan pencoretan tersebut. Koordinasi dengan BPJS Kesehatan terus dilakukan untuk mengetahui dasar kebijakan pemerintah pusat.
Sebelum pengurangan, jumlah peserta PBI APBN di Bontang tercatat 26.899 jiwa. Kini tersisa 24.146 jiwa.
Untuk menutup celah itu, peserta yang dicoret akan dialihkan ke skema PBI yang dibiayai APBD. Saat ini, peserta PBI daerah berjumlah 56.786 jiwa dan berpotensi bertambah.
Neni menegaskan, perubahan status kepesertaan tidak boleh berdampak pada layanan di lapangan. Ia meminta fasilitas kesehatan tetap melayani warga yang sebelumnya terdaftar.
“Kalau ada warga yang sebelumnya aktif dan ternyata statusnya berubah, jangan sampai ditolak. Pelayanan kesehatan harus tetap berjalan, gak usah khawatir, selama ber KTP Bontang kita pastikan layanan kesehatan tetap diterima,” tegasnya.
Di sisi lain, sebanyak 3.000 peserta PBI yang dibiayai Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur hingga kini belum terdampak kebijakan serupa.
“Kalau nanti dari provinsi juga ada perubahan, pemerintah kota akan mengupayakan agar masyarakat tetap bisa berobat. Kalau perlu cukup menunjukkan KTP,” tambahnya.
Secara keseluruhan, jumlah warga Bontang yang terdaftar dalam program jaminan kesehatan mencapai 180.196 jiwa. Terdiri dari PBI APBN 26.899 jiwa, PBI APBD 56.756 jiwa, PPU badan usaha 64.777 jiwa, PPU penyelenggara negara 19.236 jiwa, serta peserta mandiri 12.498 jiwa.(*)
Reporter: Yulia C. | Editor: Icha Nawir



