Dinkes Ajak Warga Bontang Terapkan 3M Plu, Cegah Demam Berdarah.

KITAMUDAMEDIA,Bontang – Dinas Kesehatan (Dinkes) mengajak masyarakat Bontang untuk menerapkan pola 3M plus untuk mencegah penyakit demam berdarah dengue (DBD).

Pejabat Fungsional Penyakit Menular, Dinas Kesehatan Bontang, Asniwati mengatakan seluruh masyarakat dapat menerapkan pola pencegahan 3M Menguras, Menutup, dan Mengubur dengan bertujuan untuk antisipasi berkembang biakan nyamuk DBD.

“Fokus saja dulu untuk pembunuhan jentik – jentiknya agar tidak berkembang biak,” ucapnya saat ditemui redaksi kitamudamedia.com Selasa (24/01/23).

Asniwati membeberkan Pemerintah Kota Bontang akan melakukan program penanganan DBD dengan menggunakan jentik nyamuk Wolbachia.

Sementara, anggaran yang akan digelontorkan untuk program tersebut senilai Rp 600 juta. Hal tersebut setelah Kota Bontang menjadi salah satu daerah yang terpilih menjadi pilot projek pelepasan nyamuk Wolbachia untuk menurunkan perkembangan biakan nyamuk demam berdarah.

“Anggaran sebanyak 600 juta itu nanti untuk biaya logistik, tempat jentik, dan operasional lain-lainnya. Kami bakalan lakukan sosialisasi ke semua kecamatan dan kelurahan,” bebernya.

Lanjut, ia memaparkan angka perbandingan tahun 2022 dan tahun 2023 per Januari kasus DBD terbilang tinggi tahun lalu sebanyak 40 kasus, sedangkan, tahun ini 34 kasus.

“Kalau kasus yang sekarang masih 34, jadi masih tinggi kasus sebelumnya di Januari bulan yang sama ya. Kita membandingkan disitu. Januari tahun lalu 40 kasus,” paparnya.

Sementara saat ini, pihaknya memperkirakan proses pelepasan itu nantinya baru akan dimulai tahun depan. Saat ini, pihaknya masih berfokus untuk proses pengiriman jentik dan penetasan nyamuk ber Wolbachia ini.

“Itu masih proses, karena kami masih menunggu jentik nyamuknya dari Jogja. Sebagai pengembangan inovasi dalam rangka penurunan kasus bahkan menghilangkan kasus DBD di Bontang,” ungkapnya.

Akan hal tersebut, Asni mengungkapkan dengan adanya support anggaran dari PemKot dalam program ini, ia berharap bisa mencapai 100 persen.

“Target 100 persen ya karena kita kan sudah di support anggaran APBD. Harapannya ada timbal balik ke Pemerintah Kota Bontang,” terangnya.

Sebagai informasi, penelitian nyamuk ber-wolbachia di Indonesia dimulai sejak 2011, mulai tahapan visibilitas penilaian komprehensif (asesmen) teknologi, keamanan, dan implementasi. Pada 2014, dilakukan pelepasan nyamuk pertama masing-masing dua pedukuhan di Sleman dan Bantul.

Dari pelepasan nyamuk saat itu yang hanya dilakukan selama enam bulan, sekarang di daerah itu mayoritas nyamuknya ber-wolbachia. Persentasenya mencapai 80-90 persen nyamuk ber-wolbachia.

Setelah itu, pada 2016 dan 2017, nyamuk ber wolbachia juga dirilis di beberapa tempat di Kota Yogyakarta. Hasil pengamatan di seluruh Kota Yogyakarta lewat 500 perangkap nyamuk yang disebar, populasi nyamuk ber-wolbachia sekitar 80-90 persen Penelitian ini masih terus berjalan.

Reporter: Amel
Editor: Kartika Anwar

Ikuti Fans Page Kami

Leave a Reply