Awesome Logo
Tersedia ruang iklan, informasi hubungi 08125593271                    Segenap Pimpinan dan Redaksi Kita Muda Media Mengucapkan Marhaban ya... Ramadhan 1442 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin                    Patuhi Protokol Kesehatan dan Jaga Imunitas                    Follow Medsos KITAMUDAMEDIA FB : kitamudamedia, Fan Page FB : kitamudamedia.redaksi, IG : kitamudamedia.redaksi, Youtube : kitamudamedia official                                   Selamat Menjalankan Ibadah Puasa 1442 H                         

Astronom Prediksi Idul Fitri 20 Maret 2026 karena Hilal Syawal tak Terlihat

KITAMUDAMEDIA — Pusat Astronomi Internasional di Uni Emirat Arab (UAE) menyatakan penampakan bulan sabit yang menandai awal bulan Syawal tidak mungkin terjadi pada Rabu. Hal ini menunjukkan Idul Fitri secara astronomis diperkirakan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Direktur Pusat Astronomi Internasional yang berbasis di Abu Dhabi, Mohammed Shawkat Odeh mengatakan negara-negara yang memulai bulan suci Ramadhan pada Rabu, 18 Februari, akan mencoba melihat bulan sabit Idul Fitri pada Rabu, 18 Maret.

Sementara itu, negara-negara yang memulai Ramadhan pada Kamis, 19 Februari, akan mengamati bulan sabit pada Kamis, 19 Maret, yang bertepatan dengan hari ke-29 Ramadhan di negara-negara tersebut.

Odeh menjelaskan penampakan bulan sabit Syawal pada Rabu, 18 Maret tidak mungkin terjadi karena bulan akan terbenam sebelum matahari dan konjungsi astronomis akan terjadi setelah matahari terbenam.

“Akibatnya, negara-negara tersebut diperkirakan akan menyempurnakan 30 hari Ramadhan sehingga Jumat, 20 Maret, menjadi hari pertama Idul Fitri,” katanya, dilansir di Gulf News, Selasa (10/3/2026).

Pengamatan

Ia menambahkan bagi negara-negara yang mengamati hilal pada Kamis, 19 Maret, pengamatan hilal akan mustahil dilakukan dari bagian timur dunia.

Namun, pengamatan mungkin saja dilakukan dengan teleskop secara terbatas di sebagian wilayah Asia Barat serta Afrika bagian tengah dan utara. Sementara itu, pengamatan dengan mata telanjang akan sangat sulit dilakukan di Eropa Barat dan Afrika Barat.

Wilayah yang Berpotensi Melihat Hilal

Hilal diperkirakan dapat dilihat dengan relatif mudah menggunakan mata telanjang di sebagian besar wilayah Amerika Utara.

“Oleh karena itu, sebagian besar negara diperkirakan akan mengumumkan Jumat, 20 Maret, sebagai hari pertama Idul Fitri,” kata Odeh.

Mengingat kesulitan mengamati hilal pada Kamis dari sebagian besar wilayah dunia Islam, khususnya di wilayah timur dan tengah, sejumlah besar negara mungkin tidak dapat mengonfirmasi penampakan tersebut. Hal ini dapat menyebabkan Sabtu, 21 Maret, dinyatakan sebagai Hari Raya Idul Fitri di tempat-tempat tersebut.

Baca Juga  Nursalam Tak Hadiri Pemaparan Visi Misi, Sebut Nasdem Berpihak Pada Satu Kandidat

Odeh juga menguraikan kondisi astronomi hilal pada Kamis, 19 Maret, di beberapa kota di dunia.

Di Jakarta, bulan akan terbenam 10 menit setelah matahari terbenam, dengan usia 11 jam 23 menit dan pemisahan sudut dari matahari sebesar 5,2 derajat sehingga pengamatan tidak mungkin dilakukan bahkan dengan teleskop.

Di Abu Dhabi, bulan akan terbenam 29 menit setelah matahari terbenam dengan usia 14 jam 12 menit dan pemisahan sudut sebesar 6,6 derajat. Dengan kondisi tersebut, pengamatan hanya mungkin dilakukan dengan teleskop dan dalam kondisi atmosfer yang sangat cerah.

Di Riyadh, bulan akan terbenam 30 menit setelah matahari terbenam dengan usia 14 jam 38 menit dan pemisahan sudut 6,9 derajat. Sementara di Amman dan Yerusalem, bulan akan terbenam 36 menit setelah matahari terbenam dengan usia 15 jam 7 menit dan pemisahan sudut 7,3 derajat.

Di Kairo, bulan akan terbenam 35 menit setelah matahari terbenam dengan usia 15 jam 19 menit dan pemisahan sudut 8,6 derajat.

Di semua lokasi tersebut, pengamatan hanya dimungkinkan menggunakan teleskop di bawah langit yang sangat cerah.

Ia mencatat bahwa di Rabat bulan akan terbenam 44 menit setelah matahari terbenam dengan usia 17 jam 11 menit dan pemisahan sudut 7,4 derajat. Artinya, pengamatan dengan mata telanjang akan sangat sulit bahkan dalam kondisi langit yang sangat cerah.

Di Amsterdam, bulan akan terbenam 57 menit setelah matahari terbenam dengan usia 16 jam 23 menit dan pemisahan sudut 8,4 derajat. Dengan kondisi tersebut, pengamatan menggunakan teleskop dimungkinkan, sedangkan pengamatan dengan mata telanjang sangat sulit dilakukan.

Odeh menunjukkan nilai terendah yang pernah tercatat untuk bulan sabit yang berhasil dilihat dengan mata telanjang adalah waktu tunda 29 menit setelah matahari terbenam, usia bulan 15 jam 33 menit, dan pemisahan sudut 7,6 derajat.

Baca Juga  Perjuangan Pemkot Bontang Kandas di MK, Sidrap Sah Masuk Kutim

Namun ia menekankan bahwa melampaui angka-angka tersebut tidak serta-merta menjamin visibilitas hilal. Pengamatan bulan sabit bergantung pada beberapa faktor yang saling terkait yang harus dinilai secara bersamaan, termasuk jarak sudutnya dari matahari dan ketinggiannya di atas cakrawala.

Sumber: republika.co.id| Editor: Redaksi

Ikuti Fans Page Kami

Leave a Reply