KITAMUDAMEDIA, Bontang — Pemerintah Kota Bontang berhasil menurunkan angka stunting menjadi 17,4 persen tahun ini. Guna menekan angka tersebut lebih jauh, Pemkot kini fokus pada intervensi gizi intensif bagi balita yang masih berisiko.
Penurunan angka stunting ini merupakan hasil pelaksanaan program Timbang Serentak yang dilaksanakan secara menyeluruh di seluruh posyandu. Program ini menjadi salah satu upaya awal untuk mendeteksi status gizi balita secara akurat dan menyeluruh.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menyampaikan bahwa berdasarkan data Sigizi Kemensos, angka stunting di Kota Bontang tahun 2025 sudah berada di angka 17,4 persen. Capaian ini, menurutnya, merupakan hasil kerja keras dari berbagai pihak.
“Target dari pemerintah pusat itu 17 persen untuk tahun 2025, dan alhamdulillah berkat pelaksanaan timbang serentak kemarin, menurut data Sigizi, angka stunting kita sudah mencapai 17,4 persen,” ungkapnya kepada awak media usai menghadiri Seminar Stunting di Pendopo, Kamis (7/8/2025).
Meski angka stunting menurun, Neni mengungkapkan masih ada sekitar 1.200 balita di Bontang yang masuk dalam kategori berisiko stunting. Untuk itu, pemerintah daerah melanjutkan intervensi dengan pemberian makanan bergizi selama 56 hari.
“Selama 56 hari, balita yang masih berisiko akan dipantau perkembangannya — mulai dari lingkar lengan, lingkar kepala, hingga tinggi badan. Harapannya, kondisi mereka bisa kembali normal,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, program ini melibatkan kader posyandu secara aktif. Setiap kader bertanggung jawab memantau 10 balita, dengan evaluasi perkembangan dilakukan setiap minggu.
Neni juga menyoroti pentingnya partisipasi aktif masyarakat dalam menyukseskan program ini. Ia mengungkapkan masih ada tantangan yang dihadapi, seperti kurangnya kesadaran sebagian orang tua untuk membawa anaknya ke posyandu.
“Tantangan kita saat ini, masih ada orang tua yang tidak mau membawa anaknya ke posyandu. Bahkan ada juga yang sengaja tidak memberi anaknya makanan bergizi supaya bisa mendapat bantuan dari pemerintah. Jadi memang tantangannya beragam. Maka kami harap ada kerja sama dari semua pihak,” pungkasnya.
Sebagai informasi, data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) mencatat angka stunting di Kota Bontang pada tahun 2023 sebesar 27 persen, turun menjadi 20,7 persen pada 2024, dan berdasarkan data Sigizi Kemensos tahun 2025, berada di angka 17,4 persen. (Adv)
Reporter: Yulia.C
Editor: Icha Nawir



