Wartawan Protes, HKAN Tertutup untuk Media Bontang

KITAMUDAMEDIA, Bontang – Pandemi tak menghalangi perayaan Hari Konservasi Alam Nasional (HAKN) 2020. Bontang, ditunjuk oleh Kementerian Lingkungan Hidup sebagai tuan rumah. Namun, event nasional ini mendapat sorotan dari para awak media.

Kegiatan yang rencananya akan dihadiri oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar, dan ratusan perwakilan dari berbagai daerah di Indonesia ini dibatasi.

Nyaris tak ada media lokal Bontang yang diperkenankan meliput kegiatan ini. Untuk menangkap seluruh rangkaian kegiatan yang rencana digelar 15-16 September itu. Ada kesan kegiatan tersebut seolah ditutup bagi publik Bontang, sang tuan rumah. 

Seperti dialami seorang jurnalis media lokal Bontang, Andi Yudi. Dirinya bersama 2 jurnalis lain sempat ingin meliput kegiatan itu. Padahal kala itu Bontang tengah diguyur hujan lebat. Atas nama kerja-kerja jurnalistik, mereka menerabas itu. 

Mereka datang ke pendopo rujab Wali Kota Bontang, Selasa (15/9/2020) pagi. Lantaran berdasar informasi diterima, jurnalis yang ingin meliput HKAN 2020 mesti menemui koordinator humas Bontang.

Ketika tiba di pendopo, koordinator Humas Pemkot Bontang menuturkan bila jurnalis tak diberi akses meliput. Alasan pertama, karena ada protokol liputan dari kementerian wajib dituruti. Lokasi acara pun terbilang ramai, sehingga panitia enggan menambah kerumunan dengan adanya gerombolan jurnalis. Kedua, panitia sudah mendaftar media mana saja boleh meliput. Ada tanda pengenal khusus (Id card) diberi. Tanpa itu, jurnalis tidak diberi akses masuk ke venue utama. Terakhir, penyelenggara janji akan memberi pers rilis kepada media lokal. Baik rilis tertulis, pun dokumentasi gambar dan video untuk media televisi. 

“Kami dilarang masuk. Saya sempat nego humas, tetap tidak bisa. Akhirnya teman-teman legawa pulang,” beber Yudi.

Selain Yudi Jurnalis lain juga turut mempertanyakan alasan tak diperkenankannya awak media lokal untuk meliput kegiatan berskala nasional tersebut. 

“Dapat kabar juga kalau acara puncaknya tidak boleh masuk,” kata Kusnadi.

Sementara, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Bontang, Suriadi Said menyangkan pembatasan terhadap media tersebut. Pasalnya, agenda besar itu digelar di Bontang. Mestinya jurnalis lokal ikut dilibatkan di dalamnya. Meliput rangkaian kegiatan. Kedua, ujarnya, jangan sampai pemberitahuan kepada oleh panitia kepada media lokal tidak sampai. 

“Kita menghindari jangan sampai terjadi buruk sangka. Kesannya kan seperti ada ditutup-tutupi,” ujar pria yang kerap disapa Isur ini.

Dijelaskan dia, kalau memang ada protokol liputan mesti dipenuhi, harusnya panitia memberi tahu sebelumnya kepada media lokal Bontang. Semua harus diperjelas. 

“Kalau memang harus ada daftar dulu, mestinya informasi itu disampaikan kepada teman-teman. Kalau tidak ada yang daftar okelah. Tapi ini kan memang tak ada pemberitahuan,” ujarnya. 

Hal lain yang ditekankan Isur, ini adalah kegiatan publik. Mestinya tidak perlu ada pembatasan, atau daftar media yang boleh dan tidak untuk meliput. Kata dia, dengan melakukan itu sama saja panitia membatasi ruang gerak jurnalis. 

“Enggak boleh dong dibatasi,” tegasnya. 

Kemudian, terkait janji panitia memberikan rilis. Itupun kurang elok dilakukan. Sebutnya, panitia sama saja membunuh kreativitas jurnalis dalam mengembangkan angle pemberitaan. Berita yang baik wajib memenuhi unsur 5W+1H. Pun harus dua arah. 

“Kalau satu rilis kan sama saja jurnalis didikte. Itu tidak boleh,” pungkasnya.

Awak media baru diperkenankan meliput di hari kedua pelaksanaan. Dengan sejumlah ketentuan yakni menggunakan masker dan face shield, membawa name tag pers yang disiapkan panitia, menjaga jarak selama peliputan, berada di tempat yang telah ditentukan, dan tidak melakukan wawancara doorstop. 

Reporter : Yulianti Basri

Editor : Kartika Anwar

Leave a Reply